"Nama masjid juga diubah pada tahun 1957. Dari sebelumnya Masjid Raya Banda Aceh menjadi Masjid Raya Baiturrahman," kata Kolektor Manuskrip Kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, beberapa waktu lalu.
Tak berhenti di situ, perluasan Masjid Raya Baiturrahman terus dilakukan. Pada 1991-1993, Gubernur Aceh Ibrahim Hasan melakukan perluasan meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi bagian lantai masjid tempat salat, perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula, dan tempat wudu.
Sedangkan perluasan halaman meliputi taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama. Sehingga luas ruangan dalam masjid menjadi 4.760 m2 berlantai marmer buatan Italia, jenis secara dengan ukuran 60 × 120 cm dan dapat menampung 9.000 jemaah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya sebagai tempat melaksanakan ibadah dan salat, tapi juga menjadi salah satu destinasi wisata heritage Aceh. Berbagai pembenahan dan perbaikan terus dilakukan untuk memperkuat fungsi dan eksistensinya sebagai ikon kebanggaan masyarakat Tanah Rencong.
![]() |
Bagi Cek Midi, masjid raya ini merupakan situs sejarah yang harus dilindungi, dirawat, dan dijaga. Keberadaan masjid yang dirancang dengan arsitektur Timur Tengah ini menjadi suatu yang sakral dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Aceh.
Selain itu, keberadaan masjid ini menjadi ikon Bumi Serambi Mekah. Karena itu, ada seloroh yang menyebutkan belum sah menginjak kaki di Aceh jika belum berkunjung ke Masjid Baiturrahman. Para wisatawan yang berkunjung ke masjid kini tidak lupa mengabadikannya dengan berswafoto (selfie).
"Setelah direnovasi sekarang, orang Aceh sendiri harus bertanggung jawab. Tidak hanya megah saja masjid ini, tapi harus memakmurkan. Harus beribadah di sana. Masjid Baiturrahman menjadi masjid yang paling masyhur di Aceh," ungkap Cek Midi. (asp/asp)











































