DetikNews
Kamis 24 Mei 2018, 12:19 WIB

Masjid Baiturrahman: Berdiri 1612, Dibakar Belanda, Jadi Ikon Aceh

Agus Setyadi - detikNews
Masjid Baiturrahman: Berdiri 1612, Dibakar Belanda, Jadi Ikon Aceh Masjid Raya Baiturahman Aceh (agus/detikcom)
Aceh - Masjid Raya Baiturrahman berdiri megah di jantung ibu kota Provinsi Aceh. Bergaya bak Masjid Nabawi di Madinah, rumah ibadah ini menjadi saksi bisu perjalanan Tanah Rencong. Selama Ramadan, masjid ini ramai dikunjungi warga yang melaksanakan salat atau menunggu waktu berbuka.

Dibangun pada tahun 1022 H/1612 M oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Masjid Baiturrahman sudah mengalami beberapa kali mengalami renovasi. Perluasan dan penambahan kubah dilakukan. Sebelum menjadi indah seperti sekarang, masjid ini punya sejarah panjang.

Ketika Belanda menyatakan perang terhadap kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873, para pejuang Tanah Rencong menjadikan masjid sebagai markas dan benteng pertahanan. Di sana, dijadikan tempat untuk mengatur strategi dan taktik perang. Para pahlawan seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien mengambil andil dalam mempertahkan keberadaan masjid Raya Baiturrahman.
Masjid Baiturahman: Berdiri 1612, Dibakar Belanda, Jadi Ikon Aceh

Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler mendarat di pantai Aceh pada 5 April 1873. Ia membawa 3.198 tentara dan sekitar 168 perwira. Peperangan pertama meletus. Pasukan penjajah awalnya berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Pejuang Aceh tidak tinggal diam. Mereka membuat serangan balasan sehingga menyebabkan Jenderal Kohler tewas setelah tertembus peluru di dada.

"Waktu Kohler tertembak, keadaan di sekitar masjid sangat ramai. Kohler berada di tengah-tengah keramaian itu. Tiba-tiba ia tertembak di dada. Menurut sejarah, yang menembak adalah salah satu Mujahidin dari Lueng Bata. Kita dengar juga penembak itu ada di atas pohon geulampang yang ada di depan masjid," kata Kolektor Manuskrip Kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, beberapa waktu lalu.

Saat agresi tentara Belanda kedua pada tanggal 10 April bulan Shafar 1290H/April 1873 M yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten, masjid Baiturrahman habis dibakar. Masyarakat Serambi Mekkah marah besar ketika itu. Cut Nyak Dhien yang memimpin pasukan, membakar semangat jihad para pejuang. Perang kembali meletus.

Berselang empat tahun kemudian, Belanda kembali membangun masjid. Pembangunan tahap kedua ini dilakukan oleh Pemerintah Belanda. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Kadhi Malikul Adil pada 9 Oktober 1879. Saat itu, gubernur sipil dan militer dijabat oleh Jenderal K. Van Der Heijden.

"Pembangunan kembali masjid sebagai bukti tanda perdamaian antara Aceh dan Belanda," jelas pria yang akrab disapa Cek Midi ini.

Pembangunan masjid selesai dua tahun kemudian yaitu pada 27 Desember 1881 dengan biaya F.203.000 (dua ratus tiga ribu gulden). Pemborong saat pembangunan itu yaitu Lie Asie. Waktu itu, masjid hanya dibangun dengan satu kubah dan ukuran tidak terlalu luas. Masyarakat Aceh kembali menggunakan masjid ini sebagai tempat ibadah.

Berselang bebarapa tahun kemudian, renovasi dilakukan. Pada tahun 1936, masjid diperluas dengan penambahan dua kubah. Pembangunan ini atas usaha Gubernur A. Ph. Van Aken.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed