DetikNews
Rabu 23 Mei 2018, 23:05 WIB

Respons Istana soal Pemuda Telanjang Dada Ancam Tembak Jokowi

Idham Kholid - detikNews
Respons Istana soal Pemuda Telanjang Dada Ancam Tembak Jokowi Screenshot video pemuda menantang Presiden Jokowi. (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Viral video pemuda yang mengancam akan menembak Presiden Jokowi. Istana menegaskan presiden merupakan simbol negara dan tidak boleh dipermainkan.

Video viral berdurasi sekitar 19 detik itu diunggah oleh akun Instagram @jojo_ismyname. Dalam video, tampak seorang pria berkacamata bertelanjang dada berada di sebuah ruangan.


Dia memegang foto Jokowi sambil menunjuk-nunjuknya. Dia sesumbar akan menembak orang yang ada di foto tersebut.

"Gue tembak orang ini. Gua pasung. Ini kacung gua. Kacung gua. Gue lepasin kepalanya," ujar pria tersebut.

Pihak Istana mengaku sudah melihat video viral itu. Ancaman itu ditanggapi santai.

"Ya, kita sudah lihat, saya juga sudah lihat. Tapi kan habis makan obat kali itu, mungkin gimana. Coba perhatikan baik-baik," kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin, saat dihubungi detikcom, Rabu (23/5/2018).

Di Istana, Ngabalin bertugas dalam kaitannya dengan komunikasi politik yang dilakukan Istana atau pemerintah.

Kembali ke video viral pemuda yang mengancam Jokowi. Menurut Ngabalin, tidak semua hal harus ditanggapi dan diberi bantahan. Dia menduga pemuda di video itu pecandu.

"Saya pikir tidak semuanya kita harus menanggapi itu dengan harus memberikan bantahan apa. Tapi saya pikir, kalau seperti begitu, kan kita juga bisa perhatikan. Toh, cara omongnya, cara lihatnya, rasanya dia habis makan obat itu, saya tidak bermaksud apa-apa, tapi dia mungkin pecandu itu, karena lihat matanya, cara omongnya, kepalanya," ujarnya.


Namun, polisi diminta mencari pemuda itu. Sebab, presiden merupakan simbol negara yang tidak boleh dipermainkan.

"Kemudian harus ada reward and punishment diberikan, supaya jadi pelajaran bagi yang lain, bahwa presiden itu bukan Jokowi, tapi presiden itu representasi dan simbol negara. Tidak boleh dipermainkan, diperlakukan begitu. Nggak bagus bagi kehidupan orang berbangsa dan bernegara," ujarnya.

[Gambas:Video 20detik]


(idh/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed