DetikNews
Rabu 23 Mei 2018, 15:20 WIB

Ini Upaya Ganjar Atasi Rob di Semarang

Aryo Bhawono - detikNews
Ini Upaya Ganjar Atasi Rob di Semarang PM Belanda Mark Rutte memotret Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri Infrastruktur Melanie Schultz van Haegen (Foto: Angling AP/detik.com)
Jakarta -

Salah satu pekerjaan rumah yang belum dituntaskan Ganjar Pranowo selama lima tahun memimpin Jawa Tengah adalah banjir rob di Semarang. Dia mengakui masalah alam tersebut sangat kompleks, butuh penanganan yang panjang dan melibatkan banyak instansi, termasuk pemerintah pusat.

"Mister Rutte (Perdana Menteri Belanda Mark Rutte) sewaktu meninjau lokasi (Mei 2016) bilang setidaknya perlu 10 tahun, terutama karena harus mencapai konsensus sosial terlebih dahulu," kata Ganjar dalam acara d'Candidate yang tayang di detik.com, Rabu (23/5/2018).

Sejak beberapa waktu lalu, Ganjar melanjutkan, di sejumlah titik yang biasa terkena rob sudah dipasangi sejumlah folder berikut pompa untuk menyedot kembali air ke laut. Selain itu, mulai tahun ini proyek pembangunan jalan tol Semarang - Demak dibangun melingkar. Hal itu disengaja agar turut berfungsi sebagai tanggul.

Terhadap warga di lokasi yang biasa terendam rob pun dirinya sempat menawarkan pembangunan rumah susun untuk mereka tempati. Tapi tawaran itu mereka tolak, karena merasa lebih nyaman dengan pola hidup yang sudah bertahun-tahun dijalaninya selama ini.

Sementara untuk mengatasi laju penurunan permukaan tanah akibat penyedotan air yang nyaris tak terkontrol, kata Ganjar, Pemkot Semarang sudah membuat aturan untuk mengendalikannya.

Saat berkunjung ke Rotterdam, Belanda pada November 2016, Ganjar mengaku sempat terpikir untuk membuat tanggul. Tapi para ahli Belanda yang ditemuinya menyatakan, untuk membangun hal semacam itu butuh kesiapan banyak hal, mulai teknologi, sumber daya manusia, termasuk kesiapan mental dan budaya untuk bersedia merawatnya dengan telaten. "Sekali dibangun, bendungan itu harus dirawat dengan seksama," ujarnya.

Ganjar juga mengaku pernah melontarkan wacana pembangunan tanggul raksasa seperti di Jakarta. Tapi melihat pro-kontra yang cukup tajam akhirnya dia memilih untuk tidak melanjutkan wacana tersebut. "Saya juga belajar dari kasus Jakarta, agar tidak sampai menjadi persoalan baru."




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed