Mosaik Dunia Islam

Melihat China Mendorong Integrasi Etnis Muslim Uyghur di Xinjiang

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Rabu, 23 Mei 2018 14:42 WIB
Foto: Orkestra alat musik tradisional etnis minoritas di Xinjiang Art Theater (Fitraya/detikcom)
Urumqi - Kerusuhan etnis di Xinjiang, menjadi catatan merah China di mata dunia. Pemerintah China kini mengupayakan integrasi lewat seni, pendidikan dan komunitas.

Kerusuhan besar di Xinjiang tahun 2009 menyebabkan sedikitnya 197 orang tewas. Bentrok antar etnis muslim Uyghur dan etnis Han ini menjadi sorotan pemerhati HAM. Respons dari pemerintah China yang keras, juga mendapat kritikan.

Faktanya, memang tidak semua umat muslim di Xinjiang mendapatkan perlakuan keras. Etnis muslim Hui relatif aman-aman saja. Namun etnis muslim Uyghur menerima perlakuan keras, karena ada faktor gerakan separatisme dan ekstremisme yang membuat urusannya makin rumit.

Hampir 10 tahun kemudian, pemerintah China nampaknya mengambil langkah politik yang lebih lembut. Setidaknya, itulah yang detikcom lihat saat diundang oleh State Council Information Office China dan Information Office Xinjiang Uyghur Autonomous Region ke beberapa kota di Xinjiang pada 3-11 Mei 2018 kemarin.

Pada Kamis, 3 Mei 2018 kami berkunjung ke Kota Urumqi, tepatnya Xinjiang Art Theater. Saya melihat latihan orkestra dengan alat-alat musik tradisional Uyghur seperti Dutar (gitar), Dap (rebana) dan Dulcimer (kecapi). Mereka memainkan lagu tradisional yang indah dan juga lagu Mandarin.

"Sebelum tahun 2009 kami terpisah-pisah, setelah 2009 kami menjadi grup khusus, didukung pemerintah lokal Xinjiang. Kami ingin menunjukan persatuan yang harmonis di antara kelompok etnis di Xinjiang," kata Bakhtiar Abdulwahid, Director Folk Music Art Troupe of Xinjiang Art Theater.

Ada 56 etnis minoritas di Xinjiang termasuk muslim Uyghur, muslim Hui, muslim Kazakhs, Mongol, Xibe, Tajik dll. Orkestra ini sering diminta tampil di desa-desa untuk menghibur masyarakat.

Masih di tempat yang sama ada juga latihan teater yang melibatkan 127 penari, komposer dan penyanyi. Mereka menampilkan tarian-tarian tradisional etnis minoritas dan juga tarian modern.

"Kami didukung pemerintah Xinjiang. Kami terdiri dari berbagai etnis. Kami sudah tampil di 80 desa dan dibawa Kemenlu China untuk tampil di 90 negara," kata Director of Dance Troupe Xinjiang Art Theater Elijang Yakob.

Pendidikan juga rupanya jadi strategi China mengintegrasikan etnis muslim Uyghur. Saya berkunjung ke Middle School No 66 di Kota Urumqi yang dikhususkan bagi siswa dari etnis minoritas. Fasilitasnya lengkap dari gedung olahraga, perpustakaan sampai klinik.

Kepala Sekolah Middle School No 66, Qu Mincai mengatakan ini adalah sekolah yang dibiayai penuh oleh pemerintah untuk etnis minoritas dan disupervisi pemerintah China dan Xinjiang. Sekolah ini berdiri sejak 2003 dan punya 2.400 murid dari pedesaan di Xinjiang selatan yang lebih tertinggal dari Xinjiang utara.

"Semua biaya sekolah ditanggung pemerintah. Mereka ada dari suku Kazakhs, Hui, Uyghur dll. Mereka belajar, makan, dan aktivitas bersama. Mereka dibawa dari daerah tertinggal di Xinjiang untuk pendidikan yang lebih baik," kata Qu Mincai.

Untuk bisa bersekolah di sini mereka dites akademik dan kesehatan. Setiap siswa belajar bahasa Mandarin dan bahasa Inggris selain bahasa suku mereka. Namun sayang, mereka tidak diperbolehkan salat karena aturan pemerintah komunis China yang meniadakan kegiatan agama di lembaga pemerintahan termasuk sekolah.

"UU China menjadi kebebasan beragama, tapi mereka tidak bisa mendapatkan kegiatan beribadah karena masih remaja. Kalau sudah dewasa, mereka terserah untuk melakukan kegiatan beragama," jelas Qu Mincai.

Cara ketiga yang dilakukan China adalah menciptakan komunitas yang multikultural. Karena, pemukiman di Xinjiang agak tersegregasi berdasarkan etnis. Ada daerahnya etnis Han, ada daerahnya Uyghur dan seterusnya.

Ada dua tempat pemukiman lintas etnis yang saya kunjungi, pertama adalah daerah Xinxing di Distrik Qidaowan, Kota Urumqi. Masyarakat lokal menyebutkan Adi Aisha Community. Adi Aisha adalah mendian tokoh muslim Uyghur yang semasa hidupnya sebagai buruh, mendukung penuh integrasi etnis muslim Uyghur dengan China.

Daerah Xinxing terdari beberapa gedung rumah susun dengan populasi 800 orang dari Kazakhs, Hui, Uyghur dan Han. Saat kami datang, mereka sedang berpesta makan-makan dengan hiburan nyanyian dan tarian. Mungkin untuk menyambut kedatangan kami, wartawan dari beberapa negara Asia.

Komunitas kedua yang saya jumpai ada di Kota Korla, Xinjiang, yaitu Rumah Susun No 49 yang merupakan program pemukiman ulang bagi etnis muslim Uyghur yang dulunya jadi petani kapas dan buah pear di desa-desa. Kami datang ke sana pada Senin, (7/5/2018).

Kami dijamu makan oleh pasangan suami istri Musa Ali dan Hanip Han, serta para tetangga mereka yang tampak akur dari etnis Han. Musa dan Hanip dulu petani Uyghur di desa, namun kini jadi wirausaha dan ikut koperasi ketika pindah ke Kota Korla.

Ketika kita ingin melihat secara objektif, pendekatan yang lebih lembut semacam ini dari pemerintah China terhadap etnis minoritas, tentu patut diapresiasi. Karena kita masih membaca berita tentang adanya kamp indoktrinasi di Xinjiang. Tentu saya tidak dibawa ke sana.


Tiga Strategi lewat seni budaya, pendidikan dan komunitas, saya lihat masih berupa program top down ketimbang bottom up. Tapi China memang begitu sebagai negara yang tersentralisasi.

Yang penting, jangan sampai program integrasi ini menjadi hal yang dipaksakan kepada etnis minoritas. Pengakuan terhadap budaya minoritas itu penting, tapi jangan sampai program pendidikan membuat siswa dari etnis minoritas lupa dengan budayanya. Jangan sampai program pemukiman ulang mencabut seseorang dari perikehidupan asli mereka sebagai masyarakat agraria.

Jika intinya adalah untuk mengikis separatisme dan ekstremisme di Xinjiang, maka China juga harus jauh-jauh dari pendekatan kekerasan. Kedepankan dialog dan buka komunikasi. Mungkin China juga perlu belajar dari Indonesia dimana proses berbangsa dimulai secara bottom up dari Sumpah Pemuda sampai menjadi bangsa yang punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika. (fay/rvk)