DetikNews
Rabu 23 Mei 2018, 11:30 WIB

Jejak Ali Ngabalin, Timses Prabowo yang Kini di Lingkaran Jokowi

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Jejak Ali Ngabalin, Timses Prabowo yang Kini di Lingkaran Jokowi Foto: Dok. Ali Mochtar Ngabalin
Jakarta - Politikus Golkar Ali Mochtar Ngabalin kini berada di lingkaran Istana Kepresidenan. Dia bertugas dalam kaitan dengan komunikasi politik pemerintah.

"Alhamdulillah, (saya ditempatkan) di tenaga ahli utama KSP (Kantor Staf Presiden). Setiap saat difungsikan sebagai juru bicara pemerintah," kata Ali Mochtar Ngabalin saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (23/5/2018).



Sosok Ngabalin sudah tak asing lagi di panggung politik nasional. Namanya dikenal saat menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009.

Ali Mochtar Ngabalin usai bertemu Jokowi di Istana.Ali Mochtar Ngabalin setelah bertemu Jokowi di Istana. (Foto: dok. Ali Mochtar Ngabalin)


Ngabalin menjadi anggota Dewan dengan kendaraan politik Partai Bulan Bintang (PBB) besutan Yusril Ihza Mahendra. Dia waktu itu menjabat Ketua DPP PBB.

Pada 2009, dia berbeda suara dengan keputusan Ketum PBB waktu itu, MS Kaban. PBB kala itu mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono dalam Pilpres 2009. Sedangkan Ngabalin berada dalam tim sukses Jusuf Kalla (JK)-Wiranto.

Selama menjadi anggota Dewan, Ngabalin memang kerap kritis terhadap pemerintahan Presiden SBY. Padahal SBY waktu itu berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Salah satu sikap kritisnya terhadap pemerintah adalah saat pembahasan RUU Rahasia Negara. Ngabalin mengkritik sikap pemerintah yang menarik RUU Rahasia Negara pada 2009.

"Apresiasi saya atas mencla-menclenya presiden. Tunjukkan kepada saya yang mana yang diragukan dari sebuah negara yang besar ini. SBY pernah mengatakan bahwa negara harus kuat, tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan apa pun. Sekarang, dia dikalahkan oleh 70 orang," kata Ngabalin di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2009).



Dia lantas disanggah oleh anggota Komisi I DPR dari Partai Demokrat Syarief Hasan. Adu mulut pun tak terhindarkan waktu itu.

Ngabalin kemudian menantang MS Kaban dalam Muktamar III PBB pada 2010. Meski sukses mengalahkan Yusril di tahap pertama, Ngabalin dikalahkan oleh Kaban pada tahap kedua. Waktu itu Ngabalin mendapat 123 suara dan Kaban 325 suara.

Masih di tahun yang sama, Ngabalin 'loncat' ke Partai Golkar, yang waktu itu dipimpin Aburizal Bakrie (Ical). Pilihannya ke partai berlambang pohon beringin itu karena mengikuti jejak sang ayah.

"Saya punya bapak pendiri Golkar. Ayah saya Sekber Golkar, jadi kalau ke Golkar bukan sesuatu yang baru," kata Ngabalin kepada wartawan seusai penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Golkar di Hotel Borobudur, Selasa (19/10/2010).

Kiprah Ngabalin di Golkar kemudian membuatnya menjadi anggota tim sukses pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014. Waktu itu dia memperkuat tim debat pasangan tersebut.

Prabowo-Hatta kala itu akhirnya kalah oleh pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). Ngabalin pun menjadi 'oposisi'.

Ali Mochtar Ngabalin.Ali Mochtar Ngabalin (Grandyos Zafna/detikcom)


Ngabalin juga sempat membuat kontroversi lewat pernyataannya. Dia waktu itu 'mendesak' Allah SWT memihak Prabowo.

"Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Saya percaya kalau mendesak Allah Ta'ala berpihak kepada kebenaran, keadilan, dan kepastian hukum, dalam hal ini kepada Prabowo Subianto, itu sah-sah saja dan saya tentu bisa pertanggungjawabkan," kata Ngabalin kepada detikcom waktu itu, Kamis (7/8/2014).

Saat di Golkar, Ngabalin juga pernah berseteru dengan rekan sesama kader partai tersebut. Waktu itu dia berada di kubu pimpinan Ical dan berseteru dengan Yorrys Raweyai, yang berada di kubu Agung Laksono, pada 2015.

Kini Golkar sudah jadi partai pendukung pemerintah. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pun kini menjadi Ketua Umum Golkar. Ngabalin akhirnya masuk ke lingkaran Istana.

Ketua Mubalig yang Selalu Pakai Serban

Ciri khas seorang Ali Mochtar Ngabalin adalah selalu pakai serban. Kain putih itu selalu menempel di kepala Ngabalin.

Pada 2008, Ngabalin pernah menemui imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab. Waktu itu Ngabalin sebagai anggota DPR membela FPI terkait kasus penyerangan di Monas pada 1 Juni 2008.



"Saya juga mau tanya kok bisa Habib ditahan? Kenapa setelah 3 hari baru ditangkap? Penangkapan tidak beralasan. Menurut saya, ada desain ini pengalihan isu. Pemerintah jangan menggunakan politik busuk, orang sudah tahu," kata Ngabalin saat membesuk Rizieq di Mapolda Metro Jaya, Jumat (6/6/2008).

Soal serban yang selalu melekat ini, Ngabalin pernah bercerita kepada detikcom. Waktu itu dia berkata bahwa serbannya adalah penangkal suap.

"Waduh, pakai sorban itu sudah lama, waktu ayah saya masih hidup. Saya sudah tidak ingat lagi, dulu ayah saya memandikan saya dan memberikan simbol topi dato' ini. Namanya topi tobone, serbannya dari Yaman," kata Ngabalin saat berbincang-bincang dengan detikcom di sela Mukernas PBB IV di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Rabu (16/7/2008).

Ali kemudian melepas topi sorban yang melekat di kepalanya untuk diperlihatkan kepada detikcom, sambil menerangkan bahwa tidak butuh waktu lama untuk menggunakan topi berserban itu. Dia juga bercerita saat dicap sebagai 'anggota Taliban'. Namun Ngabalin tak mempermasalahkan.

"Kita dengan begini bisa menahan diri (dari suap), menjadi forbidden-lah," kata Ngabalin.

Ali Mochtar Ngabalin saat ini juga merupakan Ketua Badan Koordinasi Muballigh Seluruh Indonesia. Ngabalin pun turut dalam aksi di depan Istana pada 4 November 2016 atau Aksi 411.

Ali Mochtar Ngabalin bersama Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia.Ali Mochtar Ngabalin bersama Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia. (Grandyos Zafna/detikcom)


"Kemarin kita bisa lihat dengan bebasnya Bang Ali Ngabalin ngomong gini, gini, gini, saya ngintipin saja, ada salahnya nggak ini. Di Monas di posko di situ semua kamera bisa dilihat, kata-katanya apa. Kita lihatin salah nggak nih kawan. Kalau salah kita angkat dia ini," canda Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam acara Seminar Partai Golkar di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (9/9/2017).

Tapi, menurut Tito, orasi Ngabalin tak salah. Tito pun mengapresiasi Ngabalin.

"Canggihnya kawan kita ini nggak ada salahnya. Habis marah-marah, nyebut nama pemerintah dan presiden, selesai itu WA lagi," kata Tito.



Tonton juga video mengenai 'Ali Mochtar Ngabalin Jadi Jubir Pemerintah':



(bag/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed