DetikNews
Rabu 23 Mei 2018, 10:44 WIB

'Aksi Peluk Saya' Perempuan Bercadar, Efektifkah Redam Islamofobia?

Ahmad Toriq, Haris Fadhil - detikNews
Aksi Peluk Saya Perempuan Bercadar, Efektifkah Redam Islamofobia? Komunitas perempuan bercadar di aksi CFD. (Foto: dok. istimewa)
Jakarta - Para perempuan bercadar menggelar aksi simpatik di sejumlah daerah demi meminimalkan Islamofobia. Seberapa efektif aksi bertajuk 'Aksi Peluk Saya' itu?

Pemerhati komunikasi digital Dr Firman Kurniawan mengatakan stigma terhadap perempuan bercadar merupakan salah satu efek samping perkembangan dunia digital, yang ruang komunikasinya ada di media sosial. Para pelaku komunikasi, termasuk di dunia digital, sering hanya berpatokan pada kriteria dan indikator tertentu, yang biasanya berupa simbol, untuk membuat klasifikasi suatu keragaman.


Di ruang digital, Firman melanjutkan, ketika seseorang yang membawa suatu simbol berbuat salah atau bertentangan dengan suatu pihak, seolah semua orang yang mengenakan simbol yang sama juga salah.

"Misalnya mengenakan cadar, burqa, hijab, ketika sebagian komunitas ini melakukan tindakan salah, lalu digunakan sebagai indikator untuk menilai bagian komunitas yang lain. Instrumen kritis dalam menilai menjadi tumpul. Untuk menemukan kebenaran mengandalkan trending dan untuk memastikan reputasi tergantung pada kriteria jejaring yang terlibat. Sehingga ketika selera publik mencurigai kelompok wanita bercadar dengan serta merta sentimen mengarah pada memusuhi kelompok bercadar, demikian simpel dan dangkal," kata Firman saat berbincang, Rabu (23/5/2018).

Dr Firman Kurniawan.Dr Firman Kurniawan. (Foto: Dok. Istimewa)

Terkait dengan 'Aksi Peluk Saya' yang digerakkan sejumlah perempuan bercadar, menurut Firman, mereka sesungguhnya ingin membangun dialog dengan kelompok yang telah terjebak dalam stigma terhadap perempuan bercadar. 'Aksi Peluk Saya' seolah bersuara boleh ada kalangan perempuan bercadar yang berbuat salah, tapi jangan serta-merta menganggap semuanya seperti itu.

"Tentu saja tawaran dialog tidak akan efektif jika hanya dilakukan sekali-sekali. Dialog harus terus dilakukan pada berbagai kesempatan dengan berbagai kalangan. Kunci memecahkan prasangka adalah munculnya dialog," ulasnya.

"Aksi peluk wanita bercadar oleh wanita lainnya adalah bentuk dialog yang perlu dibangun intensitasnya. Juga dialog-dialog dalam bentuk lain," imbuh Firman.


'Aksi Peluk Saya' di CFD, Minggu (20/5) lalu.'Aksi Peluk Saya' di CFD, Minggu (20/5) lalu. Foto: Komunitas perempuan bercadar di aksi CFD (Nur Azizah Rizqi/detikcom)

Sosiolog UGM Sunyoto Usman tak yakin 'Aksi Peluk Saya' bisa menghilangkan stigma yang sepenuhnya. Menurutnya, tokoh agama lebih efektif dalam mengubah stigma.

"Persepsi masyarakat tentang simbol keagamaan amat dipengaruhi oleh persepsi elite agama sebagai panutan. Karena simbol tidak berdiri sendiri. Simbol terkait dengan belief (kepercayaan) dan ritual. Sulit diubah dengan aksi jalanan," kata Sunyoto kepada detikcom, Selasa (22/5) malam.

"Saya kira stigma tidak mudah hilang. Aksi-aksi semacam itu hanya hilang di kulit saja," ucapnya.
(tor/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed