Kekurangan Artidjo Belum Sempat Jatuhkan Vonis Mati ke Koruptor

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 23 Mei 2018 10:24 WIB
Artidjo Alkostar (ari/detikcom)
Jakarta - Selama 18 tahun menjadi hakim agung, Artidjo Alkostar mengadili 19.708 berkas perkara. Dari jumlah itu, belum ada satu pun koruptor yang ia jatuhi hukuman mati.

"Masih ada kekurangan yang belum dicapai Pak Artidjo dalam kariernya sebagai hakim agung, yaitu belum sempat menjatuhkan hukuman mati bagi terdakwa koruptor seperti uang diberlakukan Mahkamah Agung China," kata Panitera Muda Pidana Khusus Mahkamah Agung (MA) Roki Panjaitan.

Hal itu disampaikan Roki kepada detikcom, Rabu (23/5/2018). Kesaksian itu juga dituangkan dalam buku 'Artidjo Alkostar: Titian Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan', yang diterbitkan MA.

"Meskipun hal ini belum tercapai, tetapi beliau telah memberikan kekuatan penegakan hukum dalam perkara korupsi dan kejahatan lainnya di Indonesia," ucap hakim yang menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada terdakwa korupsi Adrian Waworuntu itu.

Meski belum sempat menjatuhkan hukuman mati kepada koruptor, Artidjo adalah orang yang pro-hukuman mati. Ia menolak lobi utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memoratorium hukuman mati.
Kekurangan Artidjo Belum Sempat Jatuhkan Vonis Mati ke KoruptorArtidjo dengan Roki Panjaitan (dok.pribadi)

"Jawaban beliau pada waktu itu dengan tegas mengatakan 'moratorium hukuman mati' belum bisa dilakukan di Indonesia karena memang hukuman mati masih diberlakukan dalam berbagai UU'," kata Roki mengutip penyataan Artidjo.

Sebagaimana diketahui, saat ini belum ada koruptor yang dihukum mati. Hukuman terberat adalah penjara seumur hidup dan baru dijatuhkan kepada 3 terpidana, yaitu Adrian Waworuntu, Akil Mochtar, dan Brigjen TNI Teddy Hernayadi. Jaksa Urip Tri Gunawan diusulkan dipenjara seumur hidup oleh hakim Surya Jaya, tapi pendapatnya kalah suara. (asp/gbr)