DetikNews
Selasa 22 Mei 2018, 12:54 WIB

Kisah Tokoh Islam Indonesia dan Sarungnya

Aryo Bhawono - detikNews
Kisah Tokoh Islam Indonesia dan Sarungnya Buya Hamka, HOS Tjokroaminoto, dan Agus Salim (Kolase Foto: Luthfy Syahban)
Jakarta -

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau kerap disapa dengan Hamka merasakan kenyamanan mengenakan sarung sebagai pakaian sehari-hari. Kebiasaan ini menjadikannya mudah dikenali ketika memimpin harian Pedoman Masjarakat di Kota Medan pada 1936. Ia memakai sarung itu sambil mengayuh sepeda ke kantor redaksi di dekat pasar utama.

Sejarawan Universitas Yale Amerika Serikat, James R Rush, menuliskan dalam Adi Cerita Hamka, kebiasaan memakai sarung ini dijalani karena trauma masa remaja. Hamka pernah memakai setelan pakaian ala Eropa, dengan dasi, jas, dan celana panjang. Beberapa teman pemuda Belanda menertawakannya karena walau sudah memakai setelan eropa, Hamka tak fasih berbicara Belanda.

"Ia langsung membuang pakaian barat-nya dan kembali mengenakan sarung," tulis Rush.

Sejak saat itulah, sarung selalu lekat dengan Hamka. Ia hampir tak pernah mengenakan celana panjang untuk datang ke acara resmi sekalipun. Bisa dikatakan, ketika menelurkan ide penulisan Islam, nasionalisme, dan karya sastra, Hamka mengenakan sarungnya.

Tak hanya Hamka. Sarung di badan tokoh Islam Indonesia juga bisa menjadi senjata ampuh meraup simpati rakyat di bawah pendudukan Hindia Belanda. Mohammad Roem menuliskan dalam bukunya Bunga Rampai Dari Sejarah Jilid II, sarung Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto menjadi sebuah senjata revolusi.

Sarung revolusi dalam buku itu diutarakan oleh Haji Agus Salim ketika memandang lukisan foto HOS. Tjokroaminoto yang diperkirakan dibuat pada 1915. Lukisan potret itu menggambarkan Tjokro memakai sarung, jas tutup, peci, dan sandal.

Sarekat Islam yang didirikan Tjokro menunjukkan pribumi tidak dipandang sebagai manusia kelas dua tetapi sebagai warga negara penuh. Pandangan ini ditunjukkan dari gejala lahiriah seperti pakaian, cara bercakap, adat istiadat, dan sarung yang biasa mereka kenakan. Karena pada waktu itu menunjukkan warga negara penuh adalah dengan memakai pakaian ala barat. "Pada saat itu lukisan tersebut adalah revolusi," terang Agus Salim

Sarung juga dikenakan secara konsisten oleh salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH. Abdul Wahab Chasbullah. Ia merupakan sosok yang berdampingan dengan KH. Hasyim Asy'ari dan KHA. Wahid Hasyim dalam proses berdiri dan berkembangnya NU.

Konsistensi memakai sarung ditunjukkan Wahab Chasbullah ketika diundang ke istana negara oleh Presiden Sukarno. Protokoler istana meminta tamu yang datang mengenakan pakaian lengkap, celana, jas dan dasi. Tetapi Wahab Chasbullah justru tetap hadir dengan memakai sarung yang dipasangkan dengan jas.

Saifuddin Zuhri menuliskan dalam buku Guruku Orang-Orang Dari Pesantren, tren motif sarung yang dikenakan oleh kiai sangat ditiru oleh santri. Alkisah pada 1939 seorang kiai muda bernama Abdullah Ubaid datang ke kampung Zuhri. Ia dikirimkan untuk menyampaikan kabar dari Wahid Hasyim dan Wahab Abdullah.

Seluruh santri memperhatikan sarung yang dikenakan oleh Ubaid dengan motif plekat hijau bergaris-garis putih. Keesokannya, para santri menyerbu toko-toko dan pasar untuk membeli sarung dengan mortif Ubaid itu. "Sarung model Abdullah Ubaid, begitu disebut orang," tulis Zuhri.

Sarung yang melekat di tokoh Islam Indonesia memberikan pengaruh besar pada rakyat. Mereka bukan sekedar sandang yang melekat di badan tetapi juga sebagai identitas.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed