DetikNews
Senin 21 Mei 2018, 15:11 WIB

Anwar Ibrahim: Marah, Dendam Tak Boleh Terlalu Mengikat Kuat

Erwin Dariyanto - detikNews
Anwar Ibrahim: Marah, Dendam Tak Boleh Terlalu Mengikat Kuat Anwar Ibrahim. Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta - Anwar Ibrahim dan keluarganya tentu tak akan bisa melupakan perlakuan Mahathir Mohammad 20 tahun lalu. Ketika itu, saat karier politik Anwar tengah berada di puncak dengan jabatan wakil perdana menteri, Mahathir justru menghempaskannya.

Di penghujung 1998, Anwar dicopot dari jabatan wakil perdana menteri. Dia juga dituduh terlibat korupsi dan pidana sodomi. Anwar dan Mahathir pun terlibat pertikaian politik yang sangat keras. Namun delapan belas tahun kemudian tepatnya dua tahun lalu, Mahathir dan Anwar berdamai.



Mereka sepakat membentuk koalisi Pakatan Harapan untuk menumbangkan Najib Razak. Mengapa tak ada dendam Anwar kepada Mahathir?

"Ya, dia marah dendam ini tak boleh-lah terlalu mengikat kuat sehingga hilang pertimbangan siuman," kata Anwar dalam Blak-blakan detikcom yang tayang pada Senin, 21 Mei 2018.

Anwar mengakui bahwa pertikaiannya dengan Mahathir Mohammad menjadi satu 'perang' yang paling bersejarah di Malaysia. "Saya betul, saya perang dengan Pak Mahatir perang yang paling bersejarah di Malaysia," kata dia.

Namun kemudian saat tak lagi menjabat perdana menteri, Mahathir menemui Anwar yang saat itu masih di penjara. Kepada Anwar, Mahathir meminta untuk melupakan masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah membangun kekuatan untuk melawan rezim Najib Razak karena dinilai korup.

Anwar tak langsung mengiyakan ajakan Mahathir. Dia butuh merenung untuk beberapa waktu lamanya dan mengajak diskusi beberapa kolega. Hingga akhirnya dia melihat kesungguhan Mahathir yang ingin reformasi terjadi di Malaysia untuk melawan pemerintahan Najib yang korup. Sejak itulah dia menyatakan kesediaan untuk bergabung dengan Mahathir Mohammad.

"Setelah saya renung sekian lama, ajak teman-teman bicara bersetuju dengan agenda reform dan kemudian dia (Mahathir) ungkap beberapa kali, dia campaign dengan keras okelah baiklah," kata Anwar.

Anwar pun bersatu dengan Mahathir untuk melawan Najib. Terhadap Najib, Anwar mengaku tak memiliki dendam pribadi. Dia mengaku telah memaafkan Najib.

Namun untuk perkara korupsi dan merampok harta rakyat, itu soal lain yang harus dihentikan dan diusut tuntas. "Pak Mahathir bilang ke saya apa kita akan biarkan begitu dan dia rasa mesti ada gandengan, kalau tidak tak akan mampu dia lakukan (kalahkan Najib)," kata Anwar.

Koalisi Anwar dengan Mahathir pun sukses mengalahkan Najib. Pada Kamis, 10 Mei kemarin Mahathir dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia. Rencananya dia hanya akan menjadi perdana menteri selama 2 tahun. Setelah itu akan menyerahkan jabatan kepada Anwar Ibrahim.
(erd/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed