DetikNews
Senin 21 Mei 2018, 14:44 WIB

Kanji Rumbi, Sajian Berbuka Warisan Sultan Aceh yang Kaya Khasiat

Agus Setyadi - detikNews
Kanji Rumbi, Sajian Berbuka Warisan Sultan Aceh yang Kaya Khasiat
Jakarta - Budi Dharma sibuk mengaduk-aduk beras dalam sebuah belanga besar. Sesekali, ia menyetel api agar tidak terlalu besar. Aneka bumbu yang telah disiapkan dicampur ketika beras sudah mirip bubur. Pria berusia tahun itu saban sore bertugas sebagai koki kanji rumbi.

Selama Ramadan, masjid Al-Furqan Beurawe, Banda Aceh mempunyai tradisi memasak kanji rumbi. Bubur khas Aceh dengan campuran rempah-rempah yang sudah digiling dan ditambah sayuran ini memiliki rasa yang enak dan dipercaya kaya khasiat. Proses memasaknya dilakukan mulai pukul 14.00 WIB.

"Untuk bahannya sudah kami siapkan dari pagi," kata pria yang akrab disapa Bang Agam, Minggu (20/5/2018).

Budi sudah beberapa tahun bertugas memasak sajian berbuka warisan sultan tersebut bersama temannya. Untuk memasak kanji, butuh waktu sekitar tiga jam. Setelah beras dengan mutu terbaik dimasak menjadi bubur, baru kemudian dimasukkan beragam sayuran secara bersamaan dengan rempah-rempah yang sudah digiling sebagai bumbu utama.

Bahan yang digunakan untuk memasak kanji rumbi di antaranya yaitu beras, udang, wortel, jahe, daun sop, dan sejumlah bahan lainnya. Sebagain bahannya dipotong kecil-kecil. Saat memasak, Bang Agam terus mengaduk-aduk agar bahannya tidak ada yang tidak masak.

Agar rasanya lebih nikmat, Bang Agam juga menambahkan daging saat memasak. Daging tersebut dipotong kecil-kecil dan dimasukkan setelah beras menjadi bubur.

"Pakai daging rasanya lebih enak dan nikmat dibandingkan udang," jelasnya.

Untuk memasak kanji rumbi, panitia menghabiskan dana sebesar Rp 700 ribu/belanga. Di masjid Beurawe, ada dua belanga yang dipakai sehingga perhari panitia harus merogoh kocek Rp 1,4 juta. Dalam sebulan, dibutuhkan dana Rp 42 juta. Biaya yang dipakai untuk membuat sajian berbuka ini, diperoleh dari sumbangan masyarakat Beurawe.

Selama ini, kanji rumbi memang jarang dijumpai di luar bulan Ramadan. Bahkan di Banda Aceh hanya ada satu dua masjid yang masih memasak kanji rumbi. Saat ini, memasak kanji sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi warga Beurawe sejak zaman dahulu.

Menurut Budi, kanji rumbi ini sudah dikenal masyarakat Aceh sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, ada yang menyebutkan kanji tersebut merupakan warisan sultan yang kini mulai susah ditemui di luar bulan Ramadan.

"Di masjid ini sudah lama ada kanji. Koki yang paling lama membuat kanji ini adalah Teungku Hasan. Setelah beliau berhalangan baru saya gantinya," ungkap Budi.

Setelah kanji rumbi masak, kemudian dituang ke dalam mangkuk-mangkuk kecil. Menurut Bang Agam, kanji ini sebenarnya dikhususkan untuk warga yang berbuka puasa di masjid. Tapi tak sedikit pula warga sekitar yang datang sebelum kanji masak. Mereka membawa wadah masing-masing dari rumah sebagai tempat untuk menaruh kanji.

"Sebenarnya ini untuk orang berbuka puasa di masjid, tapi kalau ada warga yang datang membawa wadah kita beri juga," jelasnya.

Kanji rumbi diyakini mengandung banyak khasiat yang dinilai ampuh sebagai obat masuk angin dan maag. Hal tersebut karena bahan yang digunakan dikenal mujarab untuk menyehatkan tubuh seperti jahe. Jika ingin menyantap kanji rumbi saat buka puasa, datang saja ke masjid Beurawe setiap harinya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed