KH Basarudin Ali menurut cerita sebenarnya menulis ayat per ayat dari Alquran sebanyak 3 buah. Satu disimpan di masjid daerah Ciamis dan dua disimpan di Majlis Ta'lim Alhikmah miliknya.
Kedua Alquran itu berbeda ukuran, paling besar berukuran 180x150 cm dan satu lagi memiliki ukuran 90x60 cm. Dalam sampul Alquran tertulis tahun pembuatan yakni 1990-1991.
"Kertas itu didapat dari Jakarta itu berbentuk gulungan, jadi nggak berukuran seperti sekarang, kalau dulu ketika penulisan ini tidak menggunakan ukuran tersebut, jadi dipotong-potong sendiri," kata putra KH Basarudin Ali, Ayi Afifudin di Cilegon, Senin (21/5/2018).
Ayi sebenarnya tidak mengetahui persis bagaimana sang ayah mengukir ayat demi ayat hingga menjadi mushaf Alquran berukuran besar. Masalahnya, ketika Alquran itu ditulis dirinya masih kecil dan belum mengerti apa yang dilakukan ayahnya.
Ketika Alquran itu jadi, ia diwarisi untuk menjaga dan merawat keberadaan Alquran hasil karya sang ayah. Setahu Ayi, bapaknya hanya menuliskan ayat demi ayat, sedang untuk bagian ornamen dan jilid dikerjakan oleh para santri yang dulu belajar di pesantren yang kini berubah menjadi majelis ta'lim.
"Kalau saya pribadi menjaga warisan bapak dan alhamdulillah sekarang sudah ada atau mencoba untuk menulis juz amma dan sudah selesai," kata dia.
Keahlian kaligrafi arab menurun ke Ayi sendiri. Beberapa waktu lalu, Ayi berhasil menuliskan juz terakhir dari Alquran dalam waktu 18 hari. Namun, ukurannya tidak sebesar yang ayahnya dulu lakukan. (asp/asp)











































