Sabrina Dimakamkan dengan Peti, Keluarga Iwan Ragukan Pneumonia
Kamis, 14 Jul 2005 16:33 WIB
Tangerang -
Masih banyak yang sangsi bahwa kematian Iwan Siswara Rapei disebabkan pneumonia berat (radang paru-paru berat). Pihak keluarga juga sangsi. Mengapa Iwan dan putri keduanya, Sabrina Nurul Aisyah, harus dimakamkan dengan peti matinya?Pertanyaan inilah yang menggelayut di benak Dedi Hawadi, paman Iwan, saat ditemui wartawan seusai pemakaman Sabrina di TPU Pondok Benda, Pamulang, Tangerang, Kamis (14/7/2005). "Kalau cuma infeksi paru-paru, itu belum masuk ke akal kita," kata Dedi. Pihak keluarga sangat berharap Iwan dan Sabrina dimakamkan tanpa menggunakan peti mati, seperti ajaran Islam. Namun, keinginan keluarga itu tidak bisa dikabulkan oleh RS Siloam Gleneagles, rumah sakit tempat Iwan dan Sabrina dirawat. Sebelumnya, putri bungsu Iwan, Thalita Nurul Azizah dimakamkan Sabtu (9/7/2005) lalu tanpa menggunakan peti. Namun, Rabu (13/7/2005) kemarin, Iwan harus dimakamkan dengan peti mati. Begitu juga dengan Sabrina yang dimakamkan hari ini. Dedi menyesalkan sikap RS Siloam Gleneagles yang tidak menginginkan Sabrina dimakamkan tanpa peti. "Awalnya, ada kesepakatan bahwa jenazah Sabrina dimakamkan tanpa peti. Tetapi, belakangan mereka mengatakan, bila peti dibuka, itu bukan menjadi tanggung jawab Siloam. Tanggung jawab Siloam hanya sampai mengantarkan jenazah," ujar Dedi.Hal inilah yang menyebabkan Dedi dan keluarga menyangsikan bahwa kematian Iwan dan dua anaknya itu akibat radang paru-paru. Ini ada apa sebenarnya? Lebih baik, kasus yang menimpa keluarganya ini dibuka secara transparan, karena pihaknya juga tidak ingin menjadi penyebab kematian bagi orang lain. "Kami tidak ingin menjadi penyebab kematian bagi orang lain akibat tidak konsistennya informasi. Bila ini infeksi paru-paru, tentu ini sangat aneh. Tapi, biarkan ini, karena masih dalam proses penelitian," ungkap dia.Pihak keluarga saat ini menunggu informasi yang sejelas-jelasnya mengenai penyebab kematian Iwan, Sabrina, dan Thalita. "Ini sebenarnya infeksi apa. Jangan-jangan ini, jangan-jangan itu. Jangan-jangan nanti ada larangan orang-orang ke rumah kita. Jadi, tindakan preventif apa yang kita lakukan. Ini juga tantangan bagi dunia kedokteran," ujarnya.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































