DetikNews
Senin 21 Mei 2018, 07:09 WIB

20 Tahun Reformasi

Keluarga Cendana, Simbol KKN Yang Tetap Mempesona di Era Reformasi

Erwin Dariyanto - detikNews
Keluarga Cendana, Simbol KKN Yang Tetap Mempesona di Era Reformasi Kiprah politik keluarga cendana di era reformasi (Kolase foto: Andhyka Akbariansyah)
FOKUS BERITA: 20 Tahun Reformasi
Jakarta -

Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms / Barefoot on the grass, listening to our favorite song / When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath / But you heard it, darling, you look perfect tonight...

Mengikuti irama lagu, kaki Siti Hardiyati Indra Rukmana (Mba Tutut) bergerak ke depan, ke kanan lalu ke kiri dengan lincah. Tangan dan badan mengayun dengan lentur. Tetamu yang malam itu, Selasa 8 Mei 2018 hadir di kediamannya, Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, bertepuk tangan. Beberapa di antaranya mengabadikan momen tersebut dengan kamera di telepon seluler.

Malam itu, putri sulung mantan penguasa Orde Baru itu tengah menggelar acara pembubaran panitia pernikahan putri mereka, Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana dengan Ajie Sulistyo Dwi Putra Maryulis. Dua adik perempuannya, Siti Hediati Harijadi (Titiek Soeharto), Siti Hutami Endang Adiningsing (Mamiek) ikut membaur bersama para tamu.

Prosesi pernikahan Sekar dan Aji digelar pada 4-6 Mei 2018. Selama prosesi, kediaman Tutut yang nyambung dengan tempat tinggal mendiang Presiden Soeharto di Jalan Cendana itu selalu dibanjiri tamu. Saat resepsi di gelar di Grand Ball Room Hotel Kempinski, tetamu tampak antre memberikan ucapan selamat. Konon, keluarga menyebar hampir lima ribu undangan.

Presiden Joko Widodo bersama Iriana, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, sejumlah menteri kabinet kerja dan pejabat negara juga hadir saat resepsi. Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi saksi nikah dari Sekar. Adapun Mufidah Jusuf Kalla hadir saat prosesi siraman.

Hal itu mengindikasikan 20 tahun sejak Soeharto lengser, pesona keluarga Cendana seperti tak sirna. Para mahasiswa kala itu menuntut agar Soeharto dan keluarganya diadili ke pengadilan. Mereka dianggap sebagai simbol praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN)

***

Pada 1 September 1998, Kejaksaan Agung menemukan indikasi penyimpangan penggunaan dana yayasan-yayasan yang dikelola Soeharto dan keluarganya. Setidaknya ada 7 yayasan yang diperiksa, yakni: Dharmais, Dana Abadi Karya Bhakti (DAKAB), Supersemar, Amal Bhakti Muslim Pancasila, Dana Mandiri, Gotong Royong, dan Trikora. Total asetnya diperkirakan mencapai Rp 4,014 triliun.

Kejaksaan Agung juga menemukan rekening atas nama Soeharto di 72 bank di dalam negeri dengan nilai deposito Rp 24 miliar, Rp 23 miliar tersimpan di rekening BCA, dan tanah seluas 400 ribu hektare atas nama Keluarga Cendana.

Pada Oktober 2017, Mahkamah Agung mengabulkan kasasi jaksa dalam kasus eksekusi Yayasan Supersemar. MA memerintahkan Yayasan Supersemar yang dikelola keluarga Cendana membayar Rp 4,4 triliun.

Hutomo Mandala Putra (Tomy Soeharto) juga sempat mendekam di penjara lantaran terkait sederet kasus hukum. Salah satunya kasus korupsi tukar guling tanah Bulog dengan PT Goro Batara Sakti (GBS) pada 1994. Pada 22 September 2000, Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita menghukum 18 bulan penjara ganti rugi Rp 30 miliar.

Tapi yang membuat Tommy mendekam dipenjara bukan kasus korupsi, melainkan pembunuhan. Dia dinyatakan terbukti terlibat dalam kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita. Pada Juli 2002 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diketuai Amirudin Zakaria menghukumnya 10 tahun penjara. Dia bebas pada 1 November 2006. Sejak itu namanya tenggelam.

***

Lengsernya Soeharto membuat redup karier politik keluarga Cendana. Mba Tutut pernah mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) dan mengikuti Pemilu 2004, tapi tak mendapatkan suara signifikan. Selepas dari penjara Tommy juga pernah maju ke bursa pemilihan calon ketua umum Partai Golkar, tapi juga sepertinya tak ada yang meminatinya.

Kiprah politik keluarga Cendana baru terangkat pada 2014. Tapi pelakonnya adalah Titiek Soeharto yang selama Orde Baru berkuasa justru tak pernah terlibat di politik. Dia terpilih menjadi anggota DPR melalui Partai Golkar dari daerah Jogjakarta. Di masa kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical), mantan istri Prabowo Subianto itu menjadi salah satu wakil ketua umum, lalu menjadi wakil ketua dewan pakar di era Setya Novanto.

Ketika Novanto berurusan dengan pengadilan karena kasus korupsi Proyek e-ktp, karir politik Titek kembali melejit. Airlangga Hartarto yang memimpin Partai Golkar menempatkannya sebagai Wakil Ketua MPR, menggantikan Mahyudin yang dikenal dekat dengan Novanto. Selain Titiek, Tommy juga muncul kembali dengan memimpin Partai Berkarya yang lolos menjadi peserta Pemilu 2019.




(jat/jat)
FOKUS BERITA: 20 Tahun Reformasi
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed