Menaker: Serikat Pekerja dan Pesangon Hambat Investasi
Kamis, 14 Jul 2005 12:47 WIB
Jakarta - Melonjaknya angka investor yang kabur dari Indonesia dinilai terkait dengan masalah tenaga kerja. Banyaknya serikat pekerja dan jumlah pesangon yang tinggi dianggap menjadi faktor yang menghambat investor."Jumlah serikat pekerja bertambah terus tapi tidak diimbangi dengan kemampuan pengurusnya dalam mengurus Perundingan Kerja Bersama (PKB)," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Fahmi Idris saat berbicara dalam Seminar Nasional bertajuk "Langkah-langkah Strategis Pemulihan Ekonomi Indonesia" di Hotel Nikko, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/7/2005).Akibatnya, lanjut Fahmi, serikat pekerja kerap mengambil jalan pintas seperti mogok kerja dan demonstrasi. Angka pesangon yang tinggi juga ditakuti sejumlah investor terutama dari Korea. "Meski memang kalau tidak mendapatkan uang dengan jumlah signifikan, bagaimana mereka bisa bertahan hidup," keluh Fahmi.Selain itu, politisi Partai Golkar ini mengungkapkan melonjaknya pengangguran di Indonesia akibat lemahnya gerak sektor riil. Sebab, tidak ada aliran investasi baru. "Untuk itu Undang-Undang Investasi harus menjadi koridor utama arus investasi sekaligus sebagai deklarasi upaya bersama membangun Indonesia," tegas Fahmi.Di tempat yang sama, wakil dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi, mengeluhkan tidak ada tindakan nyata pemerintah dalam menarik investor. Instruksi hemat BBM justru akan makin memperburuk imej di mata investor. "Tidak ada tanda-tanda objektif untuk menarik investor dalam 10 bulan ini," tandas Sofyan.Menurutnya, keberadaan UU Investasi tidak cukup untuk memikat investor. Sebab masih banyak aspek yang harus ditangani seperti bea cukai dan UU Ketenagakerjaan. "Pemerintah harus berani mereformasi bea cukai karena masih marak barang ilegal yang bisa masuk yang menyebabkan industri kita rusak," usul Sofyan.
(ton/)











































