Mosaik Dunia Islam

Mencari Jejak Islam di Xinjiang

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Jumat, 18 Mei 2018 12:22 WIB
Foto: Fitraya Ramadhanny
Urumqi - Xinjiang di China adalah bekas Jalur Sutra, tempat pintu masuk Islam ke Negeri Tirai Bambu. Setelah 2.000 tahun, bagaimana wajahnya?

Xinjiang Uyghur Autonomous Region, begitulah nama lengkap provinsi ini. Ibukotanya adalah Urumqi. Butuh sekitar 14 jam terbang dari Jakarta ke Urumqi, via Guangzhou.

Ini adalah salah satu provinsi terluas di China, 1,6 juta km2. Provinsi ini berbatasan dengan Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan dan India. Xinjiang utara yang relatif maju disebut daerah Dzungarian dan daerah selatan yang merupakan pedalaman disebut daerah Tarim.

Xinjiang sejatinya adalah perpaduan antara Gurun Taklamakan di selatan, Gurun Gobi di timur dan Gunung Tianshan yang bersalju di sebelah utara. Iklim gurun membawa hawa kering dan dingin. Salju bisa berlangsung selama 6 bulan.

Suasana Kota Urumqi di Xinjiang (Fitraya/detikTravel)

detikcom menyusuri tempat ini pada 3-11 Mei 2018 atas undangan State Council Information Office China dan Information Office Xinjiang Uyghur Autonomous Region. Xinjiang adalah tempat yang menarik bagi para penikmat sejarah dan peradaban. Dari Ibukota Urumqi, saya ke Changji, lalu ke Korla, Yanqi dan Bohu.

Dulu Xinjiang ini bernama Xi Yu, alias Western Region. Menurut Robert Sou pemandu saya, kisah Kera Sakti Sun Go Kong yang bertajuk Journey to The West, ya maksudnya lewat daerah Xinjiang ini untuk menuju India.

Dari Xinjiang Uyghur Autonomous Region Museum di Urumqi saya mendapat cerita kalau peradaban sudah berlangsung sejak 50 ribu tahun lalu. Namun, kisah Jalur Sutra membuat tempat ini melegenda dalam peradaban manusia.

Xinjiang menjadi sangat penting ketika dibukanya Jalur Sutra pada zaman Dinasti Han tahun 60 SM. Dari Ibukota Xian (belum Beijing) jalurnya menuju Xinjiang, lalu ada persimpangan pertama ke India. Sementara kalau lurus dari Xinjiang ke Kazakhstan, Uzbekistan dan Iran, lalu berjumpa lagi persimpangan di Turki untuk menuju ke Jazirah Arab. Sementara kalau lurus lagi ujungnya adalah Romawi.

Kota Korla di tengah Gurun Taklamakan di Xinjiang (Fitraya/detikTravel)

Sutra dan giok adalah dua barang utama yang beredar di Jalur Sutra selain rempah-rempah, gading, kain tenun dan lain-lain. Namun selain itu, terjadi pertukaran pemikiran di antara manusia. Buddha dan Islam masuk ke China lewat Jalur Sutra. Sampai hari ini, jejak itu masih terlihat.

detikcom melihat Xinjiang ramai dengan komposisi etnis yang sangat menarik. Dari 23,6 juta orang pada sensus 2015, 46% adalah etnis Uyghur, 40% adalah etnis Han. Kemudian ada yang lebih minoritas lagi yaitu etnis Kazakhs 6,5%, etnis Hui 4,5% dan etnis lain-lain 3%. Total ada 56 etnis dengan menganut agama Buddha, Islam, Kristen, Katolik, Orthodoks sampai Taoisme.

Uyghur, Kazakhs dan Hui adalah suku yang beragama Islam. Mereka adalah bukti penyebaran dakwah Islam di Jalur Sutra. Di Ibukota Urumqi, saya lebih gampang melihat masjid daripada kelenteng. Semua petunjuk jalan diberikan dua tulisan, Mandarin dan Arab Uyghur.

Makanan halal bukan hal sulit ditemukan. Produk halal di Xinjiang mudah ditemukan di supermarket, tinggal perhatikan tulisan Arab yang dibaca 'Muslimin' karena kata 'Halal' ditulis dengan aksara Mandarin.

Masakan tradisional yang berkesan buat saya adalah Nasi Palov, Pilaf atau Polo atau Osh dalam bahasa Uzbek. Ini semacam nasi goreng dengan daging kambing yang penuh rempah serta parutan wortel dan sayuran. Nasi ini adalah simbol multikulturalisme di Jalur Sutra.

Nasi Palov atau Pilaf, makanan khas Jalur Sutra (Fitraya/detikTravel)

Legenda menyebutkan, Ibnu Sina adalah pencipta Nasi Palov atas perintah Raja Timur Lenk untuk meracik makanan dengan bumbu yang mudah ditemukan di sepanjang Jalur Sutra.

Setelah 2.000 tahun, Xinjiang menjelma menjadi daerah yang menggeliat pembangunannya. Xinjiang mengejar ketertinggalannya dengan daerah China di pesisir Timur dan Selatan.

Geliat pembangunan ini dipicu juga dari kisah duka, tatkala terjadi kerusuhan antar etnis Uyghur dan Han pada 2009. Kecemburuan ekonomi dan politik, dipicu aksi kekerasan menyebabkan kerusuhan besar dengan korban tewas lebih dari 197 orang.

Cerita makin keruh lagi di luar negeri karena disebut terjadi diskriminasi terhadap muslim, padahal inti masalahnya kerusuhan etnis, bukan agama. Namun, Xinjiang juga dibayang-bayangi masalah separatisme sejak tahun 1960 yang dimotori beberapa kelompok, yang terakhir adalah Turkistan Islamic Party (TIP).

Pembangunan pesat di Urumqi (Fitraya/detikTravel)

Yang jelas, pemerintah China tampak juga belajar dari kesalahan. Pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup, mungkin bisa menjadi solusi. Gedung apartemen bermunculan, gedung-gedung kantor dibangun, jalan ton dan rel kereta api melintas di sana-sini.

2.000 Tahun setelah Jalur Sutra dibuka, Xinjiang tidak kehilangan makna di tengah peradaban dunia. Seiring dengan pemerintah China menggagas One Belt One Road (OBOR), merevitalisasi Jalur Sutra Asia-Eropa, maka Xinjiang mencari bentuk baru kontribusinya terhadap perekonomian dunia.

Xinjiang menjadi daerah inti untuk Silk Road Economic Belt. Dengan 18 pelabuhan darat kelas A, Xinjiang melanjutkan apa yang telah dilakukan sejak 2.000 tahun lalu: menjadi jalur perdagangan antar peradaban Eropa, Timur Tengah dan China.

Batu Giok masih jadi komoditas penting di Jalur Sutra (Fitraya/detikTravel)Batu Giok masih jadi komoditas penting di Jalur Sutra (Fitraya/detikTravel)
(fay/nwk)