Depkes Dicurigai Mendistorsi Penyebab Kematian Keluarga Iwan
Kamis, 14 Jul 2005 10:10 WIB
Jakarta - Departemen Kesehatan (Depkes) mengklaim kematian 3 orang di keluarga Iwan Siswara Rapei karena infeksi paru-paru/pneumonia berat. Tapi Koordinator LBH Kesehatan (LBHK) pimpinan Iskandar Sitorus meragukannya."Tentu saja kami tidak percaya. Bagaimana mungkin sekeluarga serentak meninggal dunia kalau tidak ada hal-hal prinsip yang bisa mematikan?" sergah Iskandar dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (14/7/2005) pukul 10.00 WIB."Ditembak mati bareng saja belum tentu akan sama-sama mati...lha ini kok sekeluarga meninggal? Berarti di situ ada penyakit yang mematikan, yang menyebabkan disfungsi organ tubuh dan akhirnya meninggal dunia," sambung aktivis LSM ini.Iskandar tidak percaya penjelasan Depkes tentang penyebab kematian keluarga Iwan begitu saja karena Depkes hanya menerima laporan dari bawah."Depkes tidak melakukan uji klinis dan uji medis. Depkes hanya menerima report dari bawah saja. Nah, pihak yang memberikan report itu apa sudah kapabel? Sudah benar uji labnya? Kami meragukan itu," papar Iskandar yang banyak mendampingi korban malpraktek ini.Iskandar menilai, Depkes selama ini sering menutup-nutupi kasus kesehatan tertentu, termasuk kasus kematian keluarga Iwan. "Kami mengatakan, persoalan ini ditutup-tutupi, didistorsi," tuding Iskandar.Iskandar menunjuk kasus kematian pasca vaksinasi polio di beberapa tempat beberapa waktu silam. Dia menuduh Depkes menutup-nutupi penyebab kematian itu. "Dengan demikian, bagaimana kami bisa percaya?" gugatnya.Untuk menghindari distorsi ini, kata Iskandar, maka Depkes diharap tidak berjalan sendiri, tapi mengajak lembaga-lembaga yang independen turun ke lapangan."Tidak seperti yang terjadi selama ini, hanya pemerintah yang bisa mengatur semuanya, hanya pemerintah yang menganalisis, hanya pemerintah yang boleh menyimpulkan dan bicara," saran Iskandar.Sementara itu, Humas Depkes Supriadi mengulang pernyataannya Selasa kemarin bahwa hasil tes lab menunjukkan Iwan meninggal karena serangan bakteri. "Hasilnya bakteri, tidak ada virus flu burung. Kami harus hati-hati bicara soal ini pada masyarakat," kata Supriadi pada detikcom, pukul 08.30 WIB.
(nrl/)










































