DetikNews
Kamis 17 Mei 2018, 09:39 WIB

Perburuan Densus 88 Diyakini Bikin ISIS di Indonesia Panik

Ray Jordan - detikNews
Perburuan Densus 88 Diyakini Bikin ISIS di Indonesia Panik Ilustrasi teroris (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta - Rentetan aksi teror terjadi di berbagai lokasi dalam beberapa hari terakhir. Pengamat terorisme Harits Abu Ulya menilai kejadian ini disebabkan banyaknya orang yang berafiliasi dengan ISIS tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Harits, yang merupakan Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA), menilai aksi teror yang terjadi di Mapolda Riau pada Rabu (16/5) kemarin berbeda dengan aksi teror yang terjadi di Surabaya pada Minggu (13/5). Dia mengatakan aksi di Riau itu dan sejumlah aksi teror lain merupakan dampak perburuan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror.

"Kasus di Surabaya itu berbeda dengan kasus di Riau. Kalau di Riau itu sebenarnya adalah efek dari perburuan Densus terhadap kawan-kawan mereka yang punya ideologi yang sama, artinya mereka sama afiliasinya. Nah perburuan ini kan tidak hanya di Surabaya pascaledakan itu, tapi juga di banyak tempat," kata Harits saat berbincang dengan detikcom, Rabu (16/5/2018).

Dia menambahkan, faktanya, banyak orang yang berafiliasi dengan ISIS dan berpaham radikal tersebar di banyak tempat di Indonesia. Inilah yang menyebabkan banyaknya aksi teror di berbagai wilayah di Indonesia.

"Karena faktanya orang yang berafiliasi ISIS ini terdiaspora di berbagai tempat, sekalipun tidak dalam jumlah yang besar, antara 2, 5, hingga 10 orang. Perburuan itu sampai di wilayah Sumatera, termasuk Medan, Riau. Saya melihat itu membuat ruang mereka semakin sempit. Dan itu akan berpengaruh ke mereka yang menjadi panik," katanya.

Harits mengatakan, dari kejadian di Mapolda Riau, Pekanbaru, tersebut, terbukti tingkat keahlian para teroris dalam melancarkan aksinya beragam. Ada yang hanya diduga terlibat atau sekadar ikut-ikutan, ada juga yang memang terlibat jauh dan matang dalam merencanakan aksinya.

"Terlihat serangan ini tidak menggunakan bom, artinya ada kemungkinan transfer knowledge atau buku saku pembuatan bom itu tidak terdistribusikan ke semua jaringan mereka. Atau terdistribusikan tapi tidak semua orang punya keahlian untuk merakit. Tapi intinya, mereka kelihatannya panik dan mereka melakukan serangan dengan apa yang dia bisa," jelas Harits.


"Densus 88 ciduk 3 terduga teroris di Probolinggo"? Saksikan videonya di 20Detik:


(jor/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed