Militer Filipina Tak Libatkan Diri dalam Aksi Anti-Arroyo
Kamis, 14 Jul 2005 06:17 WIB
Jakarta - Gerakan menuntut Pesiden Gloria Macapagal Arroyo mundur semakin besar. Tapi, pihak militer Filipina menyatakan tidak akan turut serta dalam gerakan kalangan oposisi ini. Mereka lebih menyukai pergantian pimpinan secara konstitusional."Militer Filipina (AFP-Armed Forces of the Philippines) tidak akan ambil bagian dalam gerakan yang dimotori kelompok antipemerintah dan kelompok politisi oposisi, serta tidak akan mendukung gerakan pergantian pimpinan yang tidak konstitusional," kata juru bicara militer Filipina Jose Angel Honrado sebagaimana dikutip dari Xinhua, Kamis (14/7/2005).Ditegaskannya, AFP akan terus mendukung proses yang konstitusional dan sekarang masih dalam satu komando. Militer, kata Honrado, merupakan organisasi yang dibentuk bukan untuk tujuan politis dan bersift nonpartisan.Honrado menyatakan, 170 ribu tentara Filipina akan melanjutkan kebijakan untuk tidak ambil bagian dalam politik. "AFP akan mengambil bagian yang terbaik dalam mengatasi krisis yang ada di negara kami. Militer tidak akan keluar dari tugas utamana untuk melindungi warga negara, melindungi warga asing di dalam negeri dan juga menjaga integritas teritorial," imbuh Honrado.Pernyataan Honrado ini agak berbeda dengan wajah militer Filipina yang selalu ambil bagian dalam setiap transisi pemerintahan di negara tersebut. Militer mengambil peranan penting saat pergantian kepemimpinan Presiden Ferdinand Marcon pada 1986 dan Joseph Estrada pada 2001. Bahkan pada saat Presiden Cory Aquino, beberapa pejabat militer Filipina terkuat berusaha melakukan kudeta.Diperkirakan sepanjang Rabu (13/7/2005) kemarin, sekitar 40 ribu penduduk Filipina turun ke jalan untuk menuntut mundurnya presiden Arroyo. Mereka membentangkan spanduk besar bertuliskan "Goodbye Arroyo". Aksi ini dilakukan karena Arroyo dianggap melakukan kecurangan pada saat pemilu dan juga adanya isu perjudian illegal yang melibatkan suaminya.
(san/)











































