"Mereka bukan orang Islam, mereka robot yang diprogram untuk misi merusak nama agama Islam secara simbolik," kata Fahri dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/5/2018).
Dia melanjutkan, pelaku teror tersebut menganggap dirinya membela agama. Namun menurutnya, mereka tak memiliki rujukan, mazhab, dan tak paham bahasa Arab serta mengerti Islam. Selain itu menyerang rumah ibadah, membunuh ibu, dan anak-anak dilarang dalam perang dan damai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fahri juga menyebut, pelaku teroris biasanya memiliki kehidupan yang tertutup, jarang bersosialisasi, dan memiliki dunia sendiri. Fahri menilai tindakan pelaku terorisme bukan termasuk mati syahid.
"Sebab jika memang mereka ingin mati sebagai syuhada, mengapa menyerang tempat yang diharamkan agama? Mengapa tak menunggu mati di bulan suci?" pungkasnya.
Selain mengecam tindakan para pelaku, Fahri juga turut menyampaikan ucapan duka atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Surabaya. Dia meminta kepada aparat untuk bertindak tegas dengan menumpas habis sel-sel teroris di Indonesia. (nwy/)










































