Kondisi Membaik
Cak Nur Tetap Pantau Politik
Rabu, 13 Jul 2005 14:35 WIB
Jakarta - Kondisi kesehatan Cak Nur terus membaik. Bahkan, ia masih terus mengikuti perkembangan politik dalam negeri melalui koran dan siaran televisi.Pemilik nama lengkap Nurcholis Madjid ini sakit sejak beberapa lama. Dia sempat menjalani operasi transplantasi hati di Cina pada 23 Juli 2004 lalu. Namun, seusai operasi itu, saluran pencernaannya mengalami infeksi. Akibatnya, Rektor Universitas Paramadina itu harus dirawat di sejumlah rumah sakit baik di Singapura maupun Jakarta. "Sekarang hanya terasa mual terus," kata Cak Nur saat menerima kunjungan Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di kediamannya, Jl Johari I/8, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (13/7/2005).Saat menemui Din, Cak Nur mengenakan stelan piyama putih bermotif kotak-kotak. Tubuhnya tampak kurus dan lemah. Penampilannya kini sangat jauh berbeda saat Cak Nur sibuk menjelang Pemilu 2004 lalu."Saya tidak bisa makan banyak. Jadi, intake-nya kurang sekali," ujar Cak Nur pelan.Ia mengaku hanya bisa memasukkan 2 sendok nasi ke dalam mulutnya saat makan. Jika lebih, maka perutnya langsung terasa mual dan ingin muntah. "Itulah yang sekarang bikin saya kurang energi," jelas Cak Nur. Istri Cak Nur, Omi Komaria, menambahkan kondisi mual tersebut dikarenakan efek dari obat antirejeksi yang dikonsumsi. "Kontraksi lambungnya lemah karena efek obat itu," tandasnya.Omi menambahkan obat tersebut dikonsumsi 1 butir setiap pagi dan malam. Namun, untuk menghentikan obat tersebut harus konsultasi dengan dokter di National University Hospital Singapura. "Seharusnya hari ini berangkat tapi Bapak minta ditunda agar kondisinya lebih settle," tukasnya.Ia menjelaskan kondisi suaminya saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu. Frekuensi cuci darah saat ini adalah 1 bulan sekali. Meski, Cak Nur tetap harus suntik hormon seminggu 2 kali. "Kalau tes darahnya bagus, maka frekuensi cuci darahnya akan lebih lama," cerita Omi.Untuk mengisi kesibukannya, Cak Nur setiap hari menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar rumah dan pekarangannya. "Dia juga sibuk SMS-an," ujar Omi.Cak Nur pada 23 Juli mendatang dijadwalkan memberikan pesan tertulis dalam peringatan 50 tahun Majelis Budhayana Indonesia. Kegiatan tersebut dipusatkan di Candi Borobudur, Jawa Tengah. "Karena tidak bisa datang, Bapak memberi pesannya melalui SMS," tambah Omi.Dalam waktu dekat, Cak Nur akan bertolak ke Singapura. Kunjungannya itu untuk mengecek kondisi terakhir kesehatannya.
(ton/)











































