Hal tersebut disampaikan Jokowi saat Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Pusat dan Daerah Tahun 2018, di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Senin (14/6/2018).
"Sejenak berdoa karena tragedi bom di Surabaya kemarin," kata Jokowi dengan raut muka serius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semoga yang meninggal diberikan tempat terbaik di sisiNya dan korban terluka segera sembuh dan kembali ke keluarga. Berdoa dimulai," kata Jokowi.
Acara ini dihadiri oleh pejabat pemerintah daerah dan aparat pemerintahan desa seluruh Indonesia. Dalam kegiatan ini, Jokowi mengingatkan soal besarnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Saya ingin mengingatkan kita semua, ingin menyadarkan kembali bahwa negara kita ini negara Indonesia adalah negara besar. Sering kita lupa. Sekarang kita memiliki 260 juta penduduk tersebar di 17 ribu pulau dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Kita ini memiliki 714 suku, 1.100 lebih bahasa, berbeda adat tradisi, bahasa daerah. Ini lah anugerah Allah bagi Indonesia, berbeda beragam majemuk tapi tetap satu dalam bingkai NKRI," jelas Jokowi.
Sebelumnya, Jokowi sendiri telah meninjau langsung lokasi ledakan bom di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuno Kota Surabaya pada Minggu (13/5) kemarin. Dia juga sempat menjenguk korban yang dirawat di RS Bhayangkara Surabaya.
Jokowi pun mengutuk keras aksi teror di rumah ibadah tersebut.
"Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan yang menimbulkan korban anggota masyarakat, anggota kepolisian dan juga anak-anak yang tidak berdosa. Termasuk pelaku yang menggunakan 2 anak berumur kurang lebih 10 tahun, yang digunakan juga untuk melakukan bom bunuh diri," ujar Jokowi, Minggu (13/5).
"Detik-detik meledaknya bom di Polrestabes Surabaya", simak beritanya di 20Detik:
(jor/nkn)











































