Jejak Politik Rhoma Irama: Pernah Capres PKB, Kini Gabung PAN

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Sabtu, 12 Mei 2018 05:30 WIB
Foto: Zulkifli Hasan dan Rhoma Irama (dok. Twitter Zulkifli)
Jakarta - Raja Dangdut Rhoma Irama punya perjalanan panjang dalam karier politiknya. Kini sang 'Ksatria Bergitar' itu bergabung di Partai Amanat Nasional (PAN).

"Bang Haji Rhoma Irama dan Bang Zulkifli memiliki kesamaan pandangan politik dalam membangun kemajuan umat dan bangsa," kata Waketum PAN Viva Yoga Mauladi kepada wartawan, Jumat (11/5/2018).



Rhoma Irama sebelumnya merupakan Ketua Umum Partai Islam, Damai, Aman (Idaman). Setelah partainya tak lolos untuk jadi peserta Pemilu 2019, kini dia membawa kendaraan politiknya itu untuk 'diakuisisi' PAN.

Bergabungnya Partai Idaman ke PAN ditandai dengan pertemuan Rhoma dengan Ketum PAN Zulkifli Hasan.



Karier Rhoma Irama di Dunia Politik

Lagu dangdut yang diciptakan oleh Sang Raja Rhoma Irama bukan cuma soal cinta-cintaan. Penampilan khas Rhoma yang bermusik dan juga seni peran membawanya tenar di tahun 1970-an.

Pada tahun 1977, Rhoma jadi juru kampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), meski hanya sebagai simpatisan. Pada tahun itu, suara PPP di Jakarta bisa mengalahkan Golongan Karya (Golkar) yang merupakan penguasa Orde Baru.

Lagu berjudul 'Hak Asasi Manusia' dianggap sebagai sebuah kritikan untuk Orde Baru di tahun 1980. Rhoma juga beberapa kali hampir dibunuh pada dekade 1970-1980.

"Dengan belati di Medan, dengan golok di Palembang, dengan peluru di Jember, pake granat di Jawa Timur," tulis Moh Shofan dalam buku 'Rhoma Irama: Politik Dakwah dalam Nada' yang dirilis tahun 2014 lalu.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1946 itu akhirnya duduk di bangku MPR sebagai utusan golongan di tahun 1993 hingga 1997. Pada pertengahan 1996, nama Rhoma sempat muncul di daftar calon legislatif sementara untuk Golkar.

Pada tahun 2008, Rhoma kembali ke PPP. Ketum PPP saat itu, Suryadharma Ali, menyebut Rhoma telah berikrar untuk membesarkan PPP.

"Tahun 2009 bang Haji aktif di kampanye PPP. Sampai sekitar Maret 2013 beliau masih hadir dan memberikan orasi di Harlah DPW PPP DKI Jakarta," kata politikus PPP Arwani Thomafi, saat berbincang dengan detikcom, Minggu (21/7/2013).

Rhoma pernah melontarkan pernyataan kontroversial pada Pilgub DKI 2012. Setahun kemudian, namanya masuk dalam bakal caleg dari PKB.

"Rhoma Irama dan Ridho Irama masuk daftar caleg PKB. Insya Allah menjadi caleg yang kita usulkan ke KPU kalau tidak ada hambatan, beliau berdua sedang mempersiapkan pendaftaran di KPU," kata anggota Lembaga Pemenangan Pemilu PKB Irwan Suhanto, kepada detikcom, Jumat (19/4/2013).

Baliho Rhoma Irama tahun 2013.Baliho Rhoma Irama tahun 2013. Foto: dok. detikcom


Kemudian jelang Pemilu 2014, nama Rhoma muncul sebagai salah satu kandidat calon presiden dari PKB. Sebuah baliho besar bergambar dirinya menunggang kuda terpasang di sejumlah titik di Jakarta pada November 2013.

"Itu kan bagian dari ikhtiar. Ikhtiar kan tidak dengan satu jalan. Kita kan nasional, konstituen memang jelas orang NU, tapi swing voter kan bisa siapa saja. Ini bagian dari ikhtiar untuk pemilih mengambang itu," kata Wakil Ketua Dewan Syuro PKB saat itu, Ali Maschan Moesa, saat dihubungi.

Rhoma lalu menyatakan kesiapannya jadi capres. Meski kemudian diangap terlalu dini.

"Maka jika ada amanah dari para habib, ini saya anggap sebagai amanah dari Allah SWT. Kalau memang dukungan ini konkret, kalau ada parpol sebagai kendaraan politik dengan bismillaahirrahmaanirrahiim, saya siap jadi capres di Indonesia, pada tahun 2014," ujar Rhoma di majelis taklim Al Habib Ali Al Habsyi di Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (11/11/2013).


Pada akhirnya PKB memilih Joko Widodo untuk diusung jadi capres 2014. Namun Rhoma tak lantas mendukung Jokowi. Sang Raja Dangdut kemudian jadi pendukung Prabowo Subianto kala itu.

Setelah Pemilu 2014 berakhir, Rhoma mendirikan Partai Idaman. Tapi kini, dia mengajak partai berlambang hati itu bergabung dengan PAN. (bag/gbr)