Tokoh Agama Harus Tumbuhkan Budaya Antikorupsi

Tokoh Agama Harus Tumbuhkan Budaya Antikorupsi

- detikNews
Selasa, 12 Jul 2005 16:50 WIB
Jakarta - Korupsi bak wabah penyakit yang sulit dibendung. Adakah antivirusnya? Tokoh agama pun diminta mengambil peran penting dalam menumbuhkan budaya antikorupsi."Selama ini agama hanya dipelajari sebagai pengetahuan belaka, bukan sebagai pedoman hidup. Agama tidak bisa secara represif memberantas korupsi, tetapi secara preventif bisa," kata Salahuddin Wahid.Hal tersebut disampaikan mantan ketua PBNU ini usai acara diskusi bertajuk "Relevansi agama dalam pemberantasan korupsi" di sebuah rumah makan di Jalan HOS Tjokroaminoto, Menteng, Jakarta, Selasa (12/7/2005).Menurutnya, pemberantasan korupsi secara preventif dilakukan dengan cara penumbuhan budaya antikorupsi dalam masyarakat yang seharusnya dilakukan para tokoh agama."Masyarakat harus dianjurkan agar tidak toleran terhadap masalah korupsi, karena selama ini para pelaku korupsi tidak merasa malu di hadapan masyarakat. Mereka tetap pe-de karena tidak merasa bersalah," tukas pria yang akrab disapa Gus Solah ini.Mantan cawapres pendamping capres Wiranto ini juga meminta agar para tokoh agama tidak menjadikan pendidikan agama sekadar kognitif alias hanya ilmu pengetahuan belaka, tapi menjadikannya sebagai kesadaran untuk memperbaiki perilaku."Dalam agama, banyak sekali aturan-aturan, baik di Al Quran dan Hadis yang menjelaskan perilaku suap, yang terkait dengan korupsi. Hal-hal inilah yang tidak diketahui oleh sebagian besar umat Islam. Mereka kurang pemahaman terhadap ajaran agama ini," kata pria yang kini menjabat wakil ketua Komnas HAM ini.Tokoh Agama KorupsiTokoh Katolik Frans Magnis Suseno berpendapat, peranan agama dalam masalah korupsi masih sangat tradisional, karena agama hanya menjelaskan norma yang normatif.Untuk itu, lanjut dia, tokoh agama perlu membangun sebuah opini publik yang bisa mempengaruhi masyarakat secara luas, bahwa korupsi perlu diberantas."Selama ini, hal itu tidak terjadi. Bahkan ada tokoh agama yang melakukan korupsi," cetus pria yang akrab disapa Romo Magnis ini.Pastor yang sering dijuluki "Kasman" atau bekas Jerman yang sangat Indonesianis ini mengaku belum bisa memberikan prospek peranan agama ke depan dalam masalah korupsi, apakah masih akan seperti ini atau akan berubah."Namun yang penting, para tokoh agama harus semakin menyadari betapa tuntutan masyarakat untuk memberantas korupsi semakin besar. Para tokoh agama harus menyadarinya. Ini harus dijadikan motivasi, bukan sekadar lip service," tukas Romo Magnis. (sss/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads