Cerita Kecemasan Warga Selama Tragedi Penyanderaan di Mako Brimob

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Kamis, 10 Mei 2018 16:15 WIB
Warga sekitar menonton perkembangan tragedi di Mako Brimob lewat televisi di sebuah warung makan. (Ahmad Bil Wahid/detikcom)
Depok - Area sekitar Mako Brimob ditutup selama proses penanggulangan penyanderaan oleh narapidana terorisme di Rutan Cabang Salemba yang berlokasi di kompleks Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Seharian, para pedagang di Jalan Komjen M Yasin terpaksa menghentikan jual-beli.

[Gambas:Video 20detik]


Rasa takut pun menghantui mereka selama drama penyanderaan di dalam rutan berlangsung. Pedagang sempat khawatir kerusuhan di dalam area Mako Brimob akan merembet ke luar.

"Pasti takut kita, namanya di sini dekat. Nanti kalau ada apa-apa, pasti kena juga," kata Azizah, seorang pekerja di warung soto yang jaraknya sekitar 30 meter dari gerbang Mako Brimob, Kamis (10/5/2018).



Warung soto tempat Azizah tetap buka selama jalan di depan Mako Brimob ditutup. Dia terpaksa ikut bekerja karena disuruh juragannya tetap buka.

"Ya karena disuruh buka, jadi tetap buka. Walaupun sebenarnya agak takut juga," ujarnya.

Sepengetahuan Azizah, hampir semua pedagang di area sterilisasi tutup sejak Rabu pagi. Meski tak ada larangan buka warung dari pihak kepolisian, para pedagang berinisiatif menutup warungnya.

Ketakutan juga dirasakan rekan kerja Azizah, Febri (17). Dia bahkan mendengar langsung suara ledakan tadi pagi.



"Saya lagi tidur. Dengar ledakan langsung bangun. Saya kira itu bom, langsung saya keluar," cerita Febri.

Warung soto tempat Azizah dan Febri bekerja biasa buka sejak pukul 06.00 WIB, namun hari ini mereka baru buka pukul 11.00 WIB setelah tahu jalan depan Mako Brimob dibuka kembali.

"Sekarang kita sudah agak lega karena tahu dari berita di dalam sudah aman. Sudah nggak takut lagi," imbuh Azizah.

Lain lagi dengan Afdal, pedagang mi Aceh yang lokasinya berseberangan dengan warung soto tempat Azizah bekerja. Warungnya baru buka siang ini. Selama masa sterilisasi, dia menutup warung karena merasa lebih aman.

"Seharian kemarin saya tutup, karena baru tahu malamnya kalau jalan ini tutup, jadi kita juga tutup. Kalau takut sih nggak begitu takut," tuturnya.

Selama 8 bulan membuka warung mi Aceh di lokasi ini, baru kali ini warungnya tutup akibat kerusuhan di Mako Brimob. Dia harus rela merugi jutaan rupiah.

"Kalau sehari nggak buka, itu kita bisa rugi Rp 2 juta. Tapi alhamdulillah sekarang kan sudah aman lagi, sudah bisa buka," pungkasnya. (abw/bag)