DetikNews
Rabu 09 Mei 2018, 17:00 WIB

Ramadan 2018

Guyubnya Menyiapkan Takjil di Hamamatsu Jepang

Adelia Anju Asmara - detikNews
Guyubnya Menyiapkan Takjil di Hamamatsu Jepang Foto: Adelia Anju Asmara
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Hamamatsu - Tak terasa, Ramadan di 2018 segera tiba. Ingatan saya menerawang ke belakang. Ramadan tahun lalu terasa berbeda dan berkesan. Di 2017, saat itulah pertama kalinya saya menjalani Ramadan di tanah rantau sebagai mahasiswa di Shizuoka University, Jepang.

Rasa sedih pasti ada. Apalagi kalau mengingat momen berbuka puasa bersama keluarga dan para sahabat. Selain itu, banyak yang harus disiapkan dan disesuaikan ketika akan menjalani Ramadan di negeri orang, salah satunya perbedaan musim.

Ramadan tahun lalu, Jepang sedang mengalami pergantian musim semi ke musim panas. Tak ayal, waktu magrib atau berbuka menjadi sekitar pukul 18.45 hingga 19.00, dan waktu subuh sekitar pukul 03.00 dini hari.

Butuh energi ekstra untuk menjalani puasa yang berlangsung kurang lebih 14 jam lamanya. Namun di sisi lain, berbagai hikmah merantau saya petik, salah satunya adalah menemukan teman dan keluarga baru.

Tidak hanya dari sesama WNI, melainkan juga para pelajar dari berbagai negara. Saat waktu salat tarawih tiba, kita bisa menikmati merdunya lantunan ayat suci Alquran yang indah dibacakan sesuai kekhasan negara masing-masing.

Guyubnya Menyiapkan Takjil di Hamamatsu JepangFoto: Adelia Anju Asmara


Semua berkumpul dan bersua dalam Ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan dan keterbatasan. Sungguh, damai itu indah.

Oh iya, hal yang paling ditunggu adalah saat berbuka bersama. Di momen ini, kita punya kesempatan mencicipi kuliner khas dari berbagai negara. Sebut saja nasi Biryani dari India dan Bangladesh, nasi lemak Malaysia, Semolina Bangladesh, Rabdi-rasgulla asal Turki, dan masih banyak lagi.

Tak hanya kuliner dari berbagai penjuru dunia, masakan Nusantara juga turutmewarnai Ramadan tahun lalu. Sebagai pelajar Indonesia, teman-teman di sini tergabung dalam PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), Komsat Shizuoka, Jepang.

Di PPI, kami tak hanya berorganisasi. Lewat PPI, suasana Ramadan layaknya di kampung halaman hadir di Negeri Sakura. Rasa senasib sepenanggungan jauh dari keluarga membuat ikatan kami erat satu sama lain.

Nah, kalau di Indonesia biasanya mengandalkan masakan rumah atau penjaja takjil di sepanjang jalan untuk berbuka, jangan harap di Jepang kita bisa menemukannya.

Guyubnya Menyiapkan Takjil di Hamamatsu JepangFoto: Adelia Anju Asmara


Jadi, mau tidak mau kita dituntut menyiapkan menu sahur dan berbuka sendiri. Kalaupun ingin membeli, harus berpikir ulang apakah makanan itu halal atau tidak. Pasalnya, Provinsi Shizuoka tidak sebesar Tokyo atau Osaka yang mudah menemukan rumah makan halal.

Hal itu juga yang mendorong Irene, ketua Forum Mahasiswa Shizudai (Formasi) --Shizudai adalah sebutan Shizuoka Daigaku/Shizuoka University--untuk menginisiasi kegiatan buka puasa bersama Rektor Shizuoka University, Yukihiro Ito.

Selain ingin memperkenalkan apa itu puasa dan bulan Ramadan, kami juga ingin mendorong ketersediaan menu halal di kantin Shizuoka University, terutama di Kampus Shizuoka, karena notabene Kampus Hamamatsu sudah lebih dahulu menyediakan menu halal di kantinnya.

Tak hanya rektor, Wakil Rektor Prof. Motihashi, dan segenap profesor pembimbing serta teman-teman mahasiswa Jepang turut hadir dalam acara itu. Bertempat di Gedung Agriculture dan berbekal bumbu soto ayam instan dengan sedikit modifikasi, acara tersebut berlangsung hangat dan meriah.

Hidangan yang tersaji tak hanya soto ayam. Ada juga makanan dan minuman khas berbagai daerah Indonesia, seperti kolak khas Sulawesi bernama es palu butung.

Guyubnya Menyiapkan Takjil di Hamamatsu JepangFoto: Adelia Anju Asmara


Acara lain yang tak kalah berkesan adalah pengalaman ketika harus menyiapkan takjil atau makanan berbuka puasa sebanyak 100 porsi. Kota Hamamatsu, Provinsi Shizuoka tempat saya tinggal, ternyata dihuni kurang lebih 2.000 orang Indonesia.

Mereka terdiri dari gakusei (pelajar) dan kenshuusei (pekerja) beserta keluarganya. Sebagian besar keluarga ini telah belasan tahun tinggal di Jepang. Semua terwadahi dalam Keluarga Muslim Indonesia Hamamatsu (KMIH).

Salah satu agenda rutin KMIH adalah iftar atau berbuka puasa bersama. Saya dan beberapa perwakilan pelajar bahu membahu berbaur bersama bundatachi--sebutan istri atau ibu-ibu yang mendampingi suaminya untuk sekolah atau bekerja di Jepang--menyiapkan makanan, sambil mendengarkan kajian dari ustaz Indonesia yang sedang safari dakwah di Jepang.

Guyubnya Menyiapkan Takjil di Hamamatsu JepangFoto: Adelia Anju Asmara


Pengalaman ini menunjukkan bahwa pelajar yang merantau tidak sendiri. Ada komunitas lain yang hendaknya kita tahu dan terlibat bersosialisasi. Dari persaudaraan ini, kita bisa menimba ilmu mengenai banyak hal, mulai dari merintis usaha dari nol di Jepang, membangun keluarga, sampai mendidik anak-anak di tanah rantau.

Komunitas ini sudah seperti saudara dekat. Rasa haru memuncak ketika takbir kemenangan di hari raya Idul Fitri dikumandangkan. Ucapan maaf untuk keluarga besar di rumah hanya dapat terucap dari balik layar video call. Di sisi lain, kami punya saudara dan keluarga baru di sini yang memeluk erat saling menguatkan.

*) Adelia Anju Asmara adalah mahasiswa program Master di Shizuoka University, Jepang, Jurusan Applied Chemistry and Biochemical Engineering. Dia juga tergabung dalam PPI Jepang Komsat Shizuoka.

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dan PPI Dunia.

***

Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke email: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita.


(rns/nwk)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed