DetikNews
Selasa 08 Mei 2018, 15:22 WIB

LSI Denny JA: PDIP 21,70%, Golkar 15,30%, Gerindra 14,70%

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
LSI Denny JA: PDIP 21,70%, Golkar 15,30%, Gerindra 14,70% LSI Denny JA memaparkan hasil survei elektabilitas partai. (Marlinda/detik)
Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei elektabilitas parpol. Hasilnya, elektabilitas PDIP mengungguli parpol lainnya.

Survei dilakukan pada 28 April hingga 5 Mei 2018 terhadap 1.200 responden dengan wawancara tatap muka serentak di 34 provinsi. Metode yang dilakukan dengan multistage random sampling dilengkapi FGD dan analisis media serta indepth interview. Margin of error dari survei ini kurang-lebih 2,9 persen.


Survei LSI ini mengelompokkan parpol menjadi empat divisi sesuai dengan tingkat keterpilihannya. Divisi utama adalah partai yang ketika diproyeksikan dengan potensi maksimal suara (dengan memperhitungkan sampling error) akan berpotensi meraih elektabilitas 10 persen atau lebih.

Parpol di divisi utama ini adalah PDIP, Golkar, dan Gerindra. Berikut elektabilitasnya:

PDIP: 21,70%
Golkar: 15,30%
Gerindra: 14,70%

"Jadi, jika ditanya posisi parpol seperti apa, ini jawabannya bahwa hanya ada tiga partai yang dapat berebut di 2019. Ini partai yang bersaing di divisi utama," ujar peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (8/5/2018).

[Gambas:Video 20detik]


Kemudian, divisi menengah. Divisi menengah adalah kelompok parpol dengan perolehan suara di bawah 10 persen dan di atas batas parliamentary threshold 4 persen.

"Yang bersaing ada PKB 6,20 persen dan Demokrat 5,80 persen. Mereka di bawah 10 persen, tetapi dua partai ini sudah melewati parliamentary threshold. Tinggal bagaimana pergerakan partai ke depan karena bisa meningkat saat terasosisai dengan calon presiden yang disukai masyarakat," tutur Ardian.

Kemudian ada divisi bawah. Divisi bawah ini adalah kelompok partai yang perolehan suaranya di bawah parliamentary threshold. Ada lima parpol yang masuk di divisi ini, yakni PAN 2,50 persen, NasDem 2,30 persen, Perindo 2,30 persen, PKS 2,20 persen, dan PPP 1,80 persen.

"Angka ini memang masih di bawah 4 persen. Tapi kita masih ada margin of error. Jadi, kalau kita ambil angka optimistis, ini masih bisa lolos parliamentary threshold," kata Ardian.

Ada pula divisi nol koma. Divisi nol koma ini adalah kelompok partai dengan perolehan suara di angka nol koma, yakni Hanura 0,70 persen, PBB 0,40 persen, Garuda 0,30 persen, PKPI 0,10 persen, PSI 0,10 persen, dan Partai Berkarya 0,10 persen.

"Tanpa usaha yang sangat keras, enam partai ini akan hilang pada legislatif 2019-2024. Apakah masih bisa lolos? Kalau dilihat dari swing voter, itu masih ada 23,5 persen yang belum memutuskan, mereka masih bisa meningkatkan perolehan suara dalam waktu 11 bulan sebelum pemilu ini," tutur Ardian.
(gbr/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed