Ramadan 2018

Menyambut Ramadan Ketiga di Nanjing

Alan Teo Diner - detikNews
Selasa, 08 Mei 2018 14:57 WIB
(Foto: Alan Teo Diner)
Nanjing - Sebentar lagi, Ramadan datang menemani umat muslim satu bulan lamanya. Muslim di seluruh dunia pun menyambut bulan penuh berkah tersebut, tak terkecuali yang basis mayoritasnya bukan pemeluk agama Islam seperti di China, negara yang sedang saya tinggali saat ini.

Seperti diketahui, China adalah sebuah negara berbasis ajaran Komunis, di mana hal-hal berbau agama dinilai sedikit riskan. Umumnya, masyarakat China memeluk agama Buddha, bahkan ateis atau tidak beragama.

Tentu kalian penasaran, seperti apa penyambutan Ramadan di negeri ini. Pertanyaan seperti "Apakah ada larangan menjalankan ibadah puasa?", sering ditanyakan orang-orang yang belum pernah merasakan uniknya menjalankan ibadah di negeri dengan mayoritas non-muslim.

Foto: Alan Teo Diner
Perspektif Penyambutan Ramadan

Ya, apabila kita melihat negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia, adalah hal yang biasa bagi kita melihat antusiasme masyarakat menyambut Ramadan dan menjalankan ibadah puasa.

Hal seperti ini tidak bisa dirasakan di China. Ramadan di China sama saja seperti hari-hari biasa. Tidak ada acara penyambutan dan kemeriahan di setiap malamnya. Karena hanya segelintir warga muslim yang berpuasa. Itu pun termasuk muslim dari negara lain yang berada di China.

Nanjing adalah salah satu kota yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Masyarakat muslim di sini pun bisa dibilang kaum minoritas. Di sinilah tempat saya menuntut ilmu saat ini.

Meski minoritas, kaum muslim tidak terpengaruh kultur budaya dan lingkungan yang ada di sini. Buktinya, mereka tetap menjalankan perintah wajib di bulan Ramadan, sesuai QS Al-Baqarah 183 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."

Foto: Alan Teo Diner
Bedanya dengan Puasa di Indonesia

Penentuan awal Ramadan di sini, bergantung pada ketentuan ulama-ulama di masjid setempat. Berbeda sekali dengan di Indonesia, di mana Ramadan diambil dari perhitungan hilal dan diputuskan melalui yang namanya sidang Isbat.

Berbicara soal puasa di negeri orang, saya akui memang tak semudah di negeri sendiri. Banyak rintangan dan ujian yang harus dihadapi. Saya sendiri merasakannya menjadi jauh lebih berat.

Tahun ini menjadi tahun ketiga saya berpuasa di Nanjing. Saya mulai menuntut ilmu di sini pada 2016. Berdasarkan pengalaman dua tahun sebelumnya, Insyaallah saya akan menjalani Ramadan dengan ditemani cuaca terik musim panas. Waktu malam pun jauh lebih singkat, sementara waktu siang akan lebih lama.

Sahur biasanya dilakukan pukul 02.00 malam dikarenakan pukul 03.00 lewat berapa menit saja sudah masuk waktu imsak. Matahari terbit menampakkan diri pukul 04.50 pagi. Lalu, waktu berbuka harus menunggu hingga pukul 19.00 lewat beberapa menit hingga langit mulai tampak kemerahan pertanda waktu maghrib datang.

Jadi kalau dihitung-hitung, durasi berpuasa di sini kurang lebih selama 16 jam. Dibandingkan di Indonesia, lamanya waktu berpuasa adalah 12 jam. Karena di negara kita, waktu siang dan malam terbagi adil seperti negeri dengan dua musim pada umumnya.

Hal lain yang membedakan adalah, meski bulan Ramadan, warga muslim di sini menjalankan rutinitas harian seperti biasa. Mereka bekerja dan belajar dalam suasana menahan haus, lapar, dan dahaga, tidak ada keringanan jam kantor atau kuliah.

Foto: Alan Teo Diner
Solidaritas Muslim

Di Nanjing, ada tiga masjid yang biasa digunakan beribadah. Salah satu masjid bernama Jingjue di daerah Sanshanjie, adalah masjid yang lumayan besar dan merupakan salah satu peninggalan sejarah era kedinastian.

Banyak muslim, baik yang pribumi maupun orang asing, menunaikan salat di sana terutama saat hari Jumat. Di bulan Ramadan, setiap masjid selalu mengadakan buka puasa bersama.

Takjil dan makanan disediakan pihak pengurus masjid yang dibantu warga muslim lain secara sukarela. Di sinilah letak indahnya Islam dalam keberagaman.

Sayangnya, saya sendiri tidak bisa pergi ke masjid itu. Dikarenakan jarak yang jauh, untuk mencapai tiga masjid yang ada di Nanjing, bisa memakan waktu.

Adapun masjid terdekat di daerah Fenghuangshan, masih memakan waktu sekitar satu jam untuk menuju ke sana. Karenanya, saya biasanya ke masjid di saat libur atau setidaknya rutin di hari Jumat.

Saya pun bersyukur tidak sendirian di Nanjing, karena ada banyak umat muslim dan warga negara Indonesia di sini. Dengan demikian, kami bisa menjalankan ibadah tarawih berjamaah di asrama meski tempatnya terbatas.

Tak hanya salat berjamaah, di saat Ramadan kami juga terbiasa melaksanakan buka bersama dengan takjil seadanya. Syukurlah kami dapat saling membantu merancang dan mempersiapkan Ramadan bersama.

Foto: Alan Teo Diner
Satu hal lagi yang menarik, tidak makan dan minum saat berpuasa sering dipandang aneh oleh warga China non-muslim. Tak jarang mereka menanyakan hal itu karena heran. Namun jika telah dijelaskan, akhirnya mereka bisa memahami.

Satu hal lagi yang menarik, tidak makan dan minum saat berpuasa sering dipandang aneh oleh warga China non-muslim. Tak jarang mereka menanyakan hal itu karena heran. Namun jika telah dijelaskan, akhirnya mereka bisa memahami.

Ramadanku

Senja melukis ketenangan hati
Dalam menyambut bulan yang suci
Manakala langit seakan tersenyum menghiasi
Merajut kegembiraan umat berbeda negeri

Dulu bagiku Ramadan itu biasa
Tak terlalu istimewa karena aku di negeri Islamiah
Namun, sekarang sungguh berbeda yang kurasa
Sudah akan berjalan tiga tahun Ramadan di Tanah China

Menahan hawa dan nafsu di tanah perantauan
Berkaca dua tahun lalu pertama kali menjalankan
Di saat negeriku tak hentinya menyambut Ramadan

Dengan kesenangan batin yang tiada kira
Namun, di sini suasana itu seakan tak ada
Kini hanya segelintir umat berimankan Islam yang menyambut
Dan mereka pun tak sepenuhnya pribumi
Sudah bercampur padu dengan muslim berpaspor asing

Berkata waktu sudah jelas berbeda
Berpuasa dari tiga fajar menyingsing hingga tujuh senja menguning
Di saat negeri hanya berkisar tak lebih dari 12 jam

Dibilang unik ya memang unik
Berpuasa di sini walau lama terasa cepat berlalu
Inilah kenikmatan dari Sang Ilahi

Aku hanya menjalankan sebuah kewajiban
Berharap niat amal kan diterima
Berbalut musim panas yang menemani

Dibanding negriku,
Berpuasa di China sungguh lumayan berat
Ujian durasi, ujian cuaca, ujian penglihatan

Meski begitu indahnya Ramadan tetap terasa
Nilai keakraban sungguh terbina
Meski minoritas terasa seakan mayoritas
Di kala bersatu menunaikan amalan berjamaah

Ramadan memang hanya sebulan
Sebulan untuk memperbaiki diri
Membenah jati yang setahun ternodai

Terbersihkan oleh kemukjizatan bulan yang suci
Meski harus diiringi niat tulus ikhlas karena Ilahi
Bukan untuk harapan puji manusiawi

*) Alan Teo Diner atau Al-Tiner adalah mahasiswa Nanjing Polytechnic Institute Jurusan Mechanical and Electrical Equipment Repair and Management. Sedang menempuh studi di Nanjing sejak 2016 dan saat ini tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok- Nanjing (PPIT Nanjing).

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dan PPI Dunia.

Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke email: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita. (rns/jbr)