Kampanye terbuka pasangan calon Wali Kota Serang Syafrudin dan wakilnya, Subadri Ushuludin, menyebut ibu kota Banten sebagai daerah yang kumuh. Banyak persoalan yang salah urus di jantung Tanah Jawara dan menimbulkan banyak masalah.
"Kota Serang ibu kota provinsi, tapi masih kumuh, pengangguran masih membeludak, jalan masih bonyok, kemiskinan masih banyak," kata Syafrudin di Curug, Kota Serang, Banten, Senin (7/5/2018).
Di hadapan ribuan pendukungnya, Syafrudin mengatakan alun-alun kota bau, pasar di tengah kota kumuh, pendidikan juga masih mahal.
"Alun-alun bau pesing, Pasar Lama kumuh," ujarnya.
Ia mengatakan, warga Kota Serang harus berani mencari pemimpin yang berani menerima tantangan. Dan berani mengatakan perubahan pada ibu kota Banten ini.
"Mari kita ganti Wali Kota Serang," teriaknya.
Di kampanye terbuka ini, selain pasangan Syafruddin-Subadri, hadir juga juru kampanye dari partai pendukung, yaitu PPP, PAN, Hanura, dan PKS. Juga partai pendukung nonparlemen, yaitu Perindo, PSI, Partai Berkarya, dan Partai Garuda.
Juru kampanye Dedi 'Miing' Gumelar, yang juga pengurus DPP PAN, mengatakan, Kota Serang, yang dekat dengan Jakarta, kalah maju dibanding ibu kota provinsi di daerah lain. Kalah maju dan bersaing dengan Bandung, Yogyakarta, Semarang, bahkan Makassar, yang jauh dengan Jakarta.
"Kalau kita bandingkan dengan kota lainnya, Kota Serang paling memprihatinkan. Ada yang salah dengan Kota Serang," ujarnya.
Ia meminta orang Kota Serang tidak terlalu lama bertahan dalam kebodohan dan asyik dalam kemiskinan. Ia meminta warga kota ini tidak mengulangi kebodohan dengan memilih rezim korup di kota ini. Ibu kota Banten bukan milik satu keluarga dan kelompok tertentu.
"Jangan mengulangi kebodohan memilih rezim korup di Kota Serang. Serang bukan milik sekelompok keluarga siapa pun, harus diubah," katanya.
(bri/asp)











































