Penyidik KPK Cerita Misteri Hilangnya Novanto di Sidang Fredrich

ADVERTISEMENT

Penyidik KPK Cerita Misteri Hilangnya Novanto di Sidang Fredrich

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 07 Mei 2018 13:33 WIB
Penyidik KPK Riska Anungnata bersaksi di sidang Fredrich Yunadi. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Jakarta - Penyidik KPK Riska Anungnata menceritakan misteri hilangnya Setya Novanto sebelum mengalami kecelakaan. Saat itu Riska turut ikut ke rumah Novanto.

Riska dihadirkan sebagai saksi oleh jaksa KPK dalam sidang lanjutan perkara perintangan penyidikan Novanto dengan terdakwa Fredrich Yunadi. Riska mengaku bertemu dengan Fredrich di rumah Novanto pada 15 November 2017 ketika tim KPK mencari tahu keberadaan Novanto.


Saat itu, menurut Riska, Fredrich menunjukkan surat kuasa yang bertandatangan istri Novanto, Deisti Astriani Tagor. Melalui surat kuasa itu, Fredrich mengaku sebagai pengacara Novanto.

"Setelah kami menjelaskan kedatangan kami, memang Fredrich dan Bu Deisti menyampaikan Pak Setya Novanto tidak di rumah. Kemudian penyidik menyampaikan, menjelaskan maksud dan tujuan kami minta tolong Bu Deisti, dengan sepengetahuan Pak Fredrich tentunya, untuk menghubungi siapa saja yang bersama Pak Novanto. Kami kurang tahu siapa saja yang dihubungi, tapi sepengetahuan kami ada driver, ajudan, tapi kurang berhasil," kata Riska saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018).

Pada akhirnya keberadaan Novanto masih misterius. Salah seorang penyidik senior KPK, Ambarita Damanik, disebut Riska bertukar nomor telepon seluler (ponsel) dengan Fredrich apabila ada informasi lanjutan soal Novanto.

"Kami bertiga penyidik senior, salah satu kasatgas. Minta ke Bu Deisti agar kami dihubungi jika mendapat informasi. Salah satu satgas bertukar nomor dengan FY (Fredrich Yunadi) apabila ada kabar tentunya akan diberikan info terkait keberadaan Pak Novanto. Mohon izin, kebetulan yang paling senior di situ Ambarita Damanik," kata Riska.


Tim penyidik KPK kemudian memantau perkembangan situasi hingga keesokan harinya pada 16 November 2017 beredar kabar Novanto akan menyerahkan diri. KPK pun menentukan batas waktu, tetapi Novanto tak muncul dan akhirnya ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO).

"Pada tanggal 16 kebetulan ada tim yang menginformasikan bahwa Pak Setya Novanto akan menyerahkan diri. Kami mendapat informasi tersebut pimpinan maupun kasatgas akan rekonsiliasi untuk menunggu beliau di kantor. Kami menunggu, pada saat deadline beliau menyerahkan diri tidak datang," ucap Riska.

Pada malam harinya, Riska mengaku melihat berita yang menampilkan suara Novanto yang mengaku akan ke KPK. Tak lama, Novanto malah dikabarkan mengalami kecelakaan. Akhirnya tim KPK mengecek kebenaran informasi kecelakaan itu hingga mengecek ke RS Medika Permata Hijau, tempat Novanto dirawat. (ams/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT