Kronologi Meninggalnya Bocah Mahesa di Monas Versi Keluarga

Isal Mawardi - detikNews
Sabtu, 05 Mei 2018 15:46 WIB
Djunaedi, ayah alm Mahesa saat memaparkan kronologi kematian anaknya. (Isal Mawardi/detikcom)
Djunaedi, ayah alm Mahesa saat memaparkan kronologi kematian anaknya. (Isal Mawardi/detikcom)
Jakarta - Mahesa menjadi salah satu bocah yang meninggal dunia saat ada acara bagi-bagi sembako di Monas, Jakarta Pusat. Ayah Mahesa, Djunaedi, kemudian menceritakan kronologi kematian anaknya kepada polisi di Polda Metro Jaya.

"Di sana, anak saya dapat makan oleh panitia kata orang tua sahabat anaknya. Saat di Monas, dia pegang-pegangan tangan sama sahabatnya. Temannya itu terjatuh terus pisah. Teman anak saya panik dan anak saya panik," tutur Djunaedi di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5/2018).



Menurut Djunaedi, anaknya pernah punya riwayat penyakit diare saat kecil. Penyakitnya itu menyebabkan Mahesa mengalami demam tinggi.

"Pernah ada diare dan panas satu minggu di Rumah Sakit Mangga Besar pas umur 4 tahun," kata Djunaedi.



Mahesa meninggal dunia pada Sabtu (28/4) saat ada acara bagi-bagi sembako di Monas. Berikut ini kronologi kematian Mahesa menurut Djunaedi:

Sabtu, 28 April 2018

Pukul 06.30 WIB

Djunaedi mengantar istrinya ke Stasiun Kota untuk berobat ke RS Pelni. Sebelum berangkat, Djunaedi berpesan kepada Mahesa untuk tidak pergi ke mana-mana.

"Tolong jangan ke mana-mana, saya mau pergi," ujar Djunaedi seraya mengulang perkataannya untuk Mahesa.

Pukul 15.00 WIB

Djunaedi ditelepon istrinya yang sudah kembali ke rumah. Djunaedi lantas bertanya ke mana Mahesa. Istrinya menduga Mahesa sedang bermain dan menyampaikan hal itu ke Djunaedi.

Pukul 16.00 WIB

Istri Djunaedi kembali menelepon. Kali ini, istrinya mengabarkan bahwa Mahesa hilang di Monas.

Djunaedi lalu bertanya soal sumber informasi yang didapat istrinya. Rupanya kabar itu berasal dari Akmal, sahabat Mahesa.

"Anak saya biasa dipanggil 'Sosis' di rumah. Akmal bilang, 'Mama Sosis, Sosis sudah pulang? Tadi berpisah di Monas.' Dia lalu ke Monas. Saya berangkat dari Kelapa Gading ke Monas, istri saya sudah di sana. Di depan pintu Monas ketemu sama istri," kata Djunaedi.

Djunaedi, yang berada di Kelapa Gading untuk bekerja, langsung meluncur ke Monas. Di sana dia bertemu istrinya dan keponakannya. Mereka bertiga lalu berpencar mencari Mahesa.

"Istri saya posisi depan Istana, saya cari dekat pintu Gambir, keponakan cari di pintu Istiqlal. Di depan Gambir, saya memaksakan masuk. Saya tanya polisi yang berjaga, apakah lihat anak saya, saya sebar foto anak saya, saya beri tahu ciri-ciri," papar Djunaedi.

Djunaedi juga bertanya kepada panitia di panggung acara. Setelah itu, Djunaedi memutari Monas.

Pukul 20.00 WIB

Djunaedi kembali ke pintu yang berada di dekat Stasiun Gambir tempat dia memarkirkan motor. Rupanya motornya sudah tak ada di situ. Akhirnya Djunaedi memutuskan bertemu dengan istri dan keponakannya di pintu lain.

Pukul 21.00 WIB

Djunaedi dihubungi oleh panitia yang menginfokan bahwa ada petugas Satpol PP yang menemukan seorang anak. Djunaedi diminta menunggu karena ada panitia yang menjemputnya.

Djunaedi dan keluarganya kemudian diantar ke RS Tarakan. Di rumah sakit itu, petugas medis langsung menemui Djunaedi.

Dia lalu diantar ke ruang pasien. Menurut pihak RS, Mahesa diantar ke rumah sakit pada pukul 15.30 WIB.

"Menurut petugas Satpol PP, (Mahesa) ditemukan di luar (Monas). Lalu saya tanya, 'Kenapa hidungnya keluar darah?' (Jawabannya) karena suhu badannya tinggi, suhu badannya sekitar 40 derajat. Suhu badan naik dan dia tidak sadarkan diri terus kejang-kejang. (Pukul) 19.40 WIB anak saya sudah tidak ada. Pembuluh darah pecah karena panas tinggi dan dehidrasi juga," tutur Djunaedi.



Simak juga video "Ayah Bocah Tewas di Monas Tak Akan Menuntut Panitia": (bag/aan)