DetikNews
Jumat 04 Mei 2018, 13:14 WIB

FB Indonesia Tak Tahu Apa-apa, Polri Pertimbangkan Panggil FB AS

Audrey Santoso - detikNews
FB Indonesia Tak Tahu Apa-apa, Polri Pertimbangkan Panggil FB AS Ilustrasi Gedung Mabes Polri (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Polisi meragukan pihak Facebook Indonesia akan membawa data-data sesuai dengan kebutuhan penyelidikan kasus kebocoran data pengguna aplikasi itu di Indonesia, pada pemeriksaan kedua. Polisi mempertimbangkan akan memanggil pihak Facebook yang berada di kantor pusat, Amerika Serikat.

"(Pihak Facebook) Yang ada di sini tidak tahu apa-apa. Hampir tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang kami ajukan," jelas Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Albertus Rachmad Wibowo kepada detikcom di sela acara Apel Kasatwil di Auditorium PTIK/STIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (4/5/2018).



"Di pemanggilan pertama kemarin, mereka datang, mereka kooperatif, tapi tidak bisa menjawab apa-apa. Mereka banyak yang tidak tahu karena yang di sini hanya mengurusi advertising saja," sambung Rachmad.

Saat ini polisi masih menunggu pihak Facebook Indonesia mengumpulkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan penyidik. Rachmad mengaku belum memastikan kapan tanggal pemeriksaan kedua Facebook Indonesia.

"Mereka menyatakan siap dipanggil lagi tapi saya belum menjadwalkan karena acara kami masih padat. Sekarang saja kan Apel Kasatwil," tutur Rachmad.

Ditanyai kemungkinan polisi memanggil pihak Facebook di kantor pusat Amerika Serikat jika Facebook Indonesia tak memberikan data sesuai kebutuhan penyelidikan, Rachmad mengaku hal itu akan pertimbangan.

"Itu akan kita pertimbangkan. Akan kita pertimbangkan. Saya lapor ke regulator nanti, saya lapor ke Pak Menteri Kominfo, apa kebijakan beliau. Dan saya kira Pak Menteri sudah punya rencana kalau itu terjadi," ucap Rachmad.

Masih kata Rachmad, ada tiga kendala kepolisian dalam menyelidiki perkara yang disebabkan Facebook di Indonesia. Pertama, karena Facebook sebagai plafon media sosial bersifat tak ada batasan atau borderless.



"Kedua, orang yang masuk media soal bisa dengan mudah memalsukan identitasnya, anonymous. Yang tahu semua itu Facebook karena dia yang pegang servernya," tandas Rachmad.

"Ketiga, orang gampang sekali diorganisir dengan media sosial, jadi sangat terorganisir. Walau tidak kenal tapi bisa termotivasi. Jadi bisa digunakan untuk digunakan radikalisasi untuk, pengerahan massa," imbuh dia.

Terakhir, Rachmad meminta sikap kooperatif Facebook dalam penyelesaian masalah-masalah yang berasal dari aktivitas di aplikasinya.

"Hal-hal ini, yang merugikan ini, tiga kendala ini, kita minta Facebook tolong bantu kita kalau mereka mau tetap eksis di Indonesia," tutup Rachmad.



(aud/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed