Inpres Hemat BBM Mulai Ditanggapi Pesimis
Senin, 11 Jul 2005 07:25 WIB
Jakarta - Instruksi Presiden (Inpres) No.10/2005 tentang Penghematan Energi mulai ditanggapi pesimis. Inpres ini dianggap tidak tepat dalam menanggulangi masalah kelangkaan BBM. "Saya yakin bahwa Inpres ini tidak efektif. Kita lihat saja nanti," kata anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Keadilan Sejahtera, Rama Pratama ketika dihubungi detikcom, Senin (11/7/2005).Seperti diketahui, Inpres tersebut dikeluarkan dan mulai berlaku pada Minggu 10 Juli 2005 kemarin. Tujuan dikeluarkannya Inpres ini adalah untuk meningkatkan upaya penghematan energi di setiap lingkungan instansi pemerintah.Menurut Rama, imbauan Presiden yang dituangkan ke dalam Inpres itu tidak tepat sasaran. Alasannya, penghematan BBM sebaiknya dilakukan pada hal lain yang dinilai lebih mendasar.Rama mengusulkan, sebaiknya pemerintah membenahi terlebih dahulu berbagai permasalahan yang menyangkut beberapa hal, misalnya membenahi distribusi bahan bakar, memberantas penyelundupan BBM serta mengungkap berbagai kasus pengoplosan bahan bakar. "Itu kerja keras pemerintah. Jangan karena pemerintah yang kekurangan, justru masyarakat yang kena dampaknya," kritik Rama keras.Tindakan lain yang sepatutnya dikerjakan pemerintah yakni memberantas para broker importir bahan bakar. "Itu yang membuat subsidi kita jadi membengkak," tegasnya lagi.
(ism/)











































