Contoh ketidakberaturan ekonomi yang saat ini bisa menjadi peluang, menurut pria yang akrab disapa Rommy ini, ditunjukkan oleh keberhasilan perusahaan Gojek dan Tokopedia. Gojek yang tidak mempunyai kendaraan kini memiliki mitra lebih dari dua juta pengemudi. Begitu juga Tokopedia yang tidak mempunyai toko atau mal malah bisa melayani 750 ribu transaksi penjualan setiap hari.
"Ada juga perusahaan Airbnb, yang tidak mempunyai hotel melayani ratusan ribu penginapan kamar setiap tahunnya di Indonesia. Ini semua adalah contoh peluang di disruption ekonomi," kata Romy dalam keterangan tertulis, Rabu (2/5/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Mengelola Disrupsi Ekonomi |
Peluang yang ada menurut Rommy bisa sangat mudah untuk dimanfaatkan santri, asalkan bisa kreatif dan inovatif. Bahkan saat ini di era digital dan berkembangnya internet, orang bisa sukses dengan cepat. Kesuksesan itu bisa saja tidak bisa diperkirakan oleh banyak orang sebelumnya.
"Gojek yang baru berusia empat tahun mempunyai nilai perusahaan sebesar Rp 56 triliun. Angka ini empat kali lipat dibanding Garuda Indonesia yang hanya Rp 12 triliun, padahal sudah berdiri puluhan tahun lamanya," ungkap Rommy.
Melihat peluang yang besar ini, sambungnya, semua orang bisa sukses. Rommy memotivasi para santri untuk tidak pesimis dalam menghadapi masa depan. Ia juga meminta agar santri tidak inferior melihat orang-orang asing bahkan tenaga kerja asing yang kini ada di Indonesia. Santri pada khususnya, dan pemuda Indonesia pada umumnya menurut Rommy, bisa bersaing dengan siapapun.
"Jadi tidak ada asalan untuk takut bersaing di era global seperti sekarang ini. untuk itu kita tidak boleh berhenti belajar serta bekerja keras dan cerdas," jelas Rommy.
Belajar dari Jepang dan Korea
Tentang semangat kerja yang pantang menyerah, Rommy mengajak pemuda untuk belajar ke Jepang dan Korea Selatan. Jepang yang hancur lebur pada 1945 kembali bangkit dan menjadi negara industri besar saat ini.
Diungkapkannya, kedua negara itu tidak malu untuk belajar ke Amerika Serikat. Orang Jepang bekerja di Ford Motor dan mempelajari sukses perusahaan itu. Kemudian membuat membuat mobil sendiri dengan harga yang lebih murah serta disesuaikan dengan keperluan kendaraan di Asia serta dengan bentuk yang jauh lebih menarik.
"Begitu juga dengan Korea yang baru selesai perang saudara pada 1967, atau dua puluh tahun setelah Indonesia merdeka. Korea melihat mereka mempunyai kelebihan berupa tenaga kerja murah, sehingga kemudian mampu membuat mobil yang biaya produksinya jauh lebih murah dan kini juga menjadi raksasa Asia," pungkas Rommy. (idr/ega)











































