DetikNews
Senin 30 April 2018, 17:00 WIB

Kisah Gigih Sridayati Perangi Tuberkulosis di Pelosok Riau

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kisah Gigih Sridayati Perangi Tuberkulosis di Pelosok Riau Sridayati berkeliling pelosok di Riau mencegah TB. (Chaidir Tanjung/detikcom)
Pekanbaru - Sridayati (35) berkeliling mengendarai sepeda motor untuk memerangi penyakit menular tuberkulosis (TB). Pegawai Puskesmas Teluk Meranti ini melakukan hal itu setiap hari selepas jam dinas.

Sri, begitu sapaannya, sejak awal 2018 memilih sistem jemput bola ke masyarakat. Ibu tiga anak ini berkeliling mengendarai sepeda motor dari satu rumah ke rumah warga lainnya di Kelurahan Teluk Meranti, Pelalawan, Riau.

Dalam misi memerangi TB, Sri didampingi para kader kesehatan. Di Teluk Meranti, ada sekitar 800 keluarga yang mendapat perhatian khususnya.

Sri menghabiskan waktu setidaknya selama 2 jam tiap hari untuk menyambangi warga. Hal ini dilakukan sepulang dari kerja, sekitar pukul 15.00 WIB. Sepeda motor yang dikendarainya dipasangi sebuah boks yang berisikan beras, kotak obat-obatan, dan peralatan medis untuk memeriksa dahak warga yang terserang batuk.

"Waktunya segitu saja. Besoknya kita sambung lagi ke warga-warga lainnya. Ini untuk pemeriksaan penyakit TB," kata Sri dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (30/4/2018).


Setiap ada laporan warga yang batuk dan belum berhenti, Sri akan segera bergegas ke sana. Dengan cekatan, dia melakukan pemeriksaan kesehatan dengan pengambilan dahak. Tidak itu saja, keluarga pasien lainnya, walau tidak batuk, juga tetap diperiksa.

"Jadi kalau ada yang terduga kena TB, semua keluarganya yang satu rumah tetap kita periksa. Ini untuk memastikan ada tidaknya penyakit tersebut," kata Sri.

Untuk menjalankan misi memerangi penyakit TB ini ternyata bukan hal yang gampang. Sebab, selama ini bila ada warga yang terkena penyakit TB selalu dikaitkan dengan hal mistis.

Warga yang terkena batuk berdarah, misalnya, tidak berobat ke puskesmas. Warga malah memberi rujukan pengobatan lewat dukun. Di sinilah peran Sri menyadarkan warga setempat akan arti pemeriksaan kesehatan secara medis.

"Awalnya memang susah warga menerima kita, karena sudah turun-temurun kalau terkena penyakit TB dengan kondisi dahak berdarah, dikaitkan dengan mistis. Katanya kena guna-guna, makanya mereka berobatnya ke dukun, bukan ke puskesmas," kata Sri.

Lambat laun, kegigihan Sri ini membuahkan hasil. Niatnya melakukan pemeriksaan kesehatan khusus TB kini sudah bisa diterima warga setempat.

Kini, lewat para kadernya yang dibentuk di setiap RT, Sri juga selalu menerima aduan langsung bila ada warga yang terserang batuk yang tak kunjung sembuh.

"Di kelurahan ini ada 5 orang yang dipastikan terkena TB. Mereka tetap kita pantau selama proses penyembuhannya," kata Sri.

Pemantauan dilakukan karena biasanya warga tak lagi minum obat setelah gejala batuknya berkurang dalam waktu sepekan. Padahal obat diberikan untuk kebutuhan sebulan.

"Kalau tidak kita pantau terus, kadang obatnya tidak dihabiskan. Kebiasaan warga seperti itu. Makanya bagi yang dalam pengobatan, terus kita kontrol agar mereka menghabiskan obat yang kita berikan," kata Sri.

Sri juga melakukan pemeriksaan di setiap rumah warga. Terutama dia melakukan pemeriksaan untuk ruang kamar. Sri akan mengedukasi warga agar setiap kamar ada jendela. Bila tidak, dengan kondisi kamar tidak masuk sinar matahari, kuman akan tetap berada di dalam ruangan.

"Jadi saya pun meminta warga yang kamarnya tidak ada ventilasi udara harus dibuatkan jendela. Agar kuman dalam ruangan bisa mati karena sinar matahari. Selama ini banyak saya temukan ruangan kamar tanpa jendela," kata Sri.

Tidak hanya melakukan pengobatan TB atau TBC. Sri juga menginisiasi pengumpulan dana untuk pasien TB. Caranya, dalam dua pekan sekali, setiap keluarga diminta memberikan sumbangan beras satu mug (ukuran kaleng susu).

Beras itu dikumpulkan dari setiap rumah warga. Awalnya juga ada yang keberatan. Tapi karena tujuannya menolong pasien TB yang kurang mampu, akhirnya warga pun bersedia menyumbangkan berasnya.

"Berasnya saya kumpuli, nanti kita jual. Kita akan belikan susu, kacang hijau, dan telur. Itu semua akan kita berikan pasien TB yang kurang mampu. Pasien TB umumnya berasal dari keluarga kurang mampu. Jadi sistem tolong-menolong ini saya lakukan demi membantu pasien TB," kata Sri.

Inovasi Sri itu ternyata mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Dalam penanganan pasien TB yang dilakukannya, inovasi itu menempati posisi nomor satu di Riau.

Atas inovasi tersebut, Bupati Pelalawan M Harris pun merasa bangga karena meraih prestasi nomor satu di Riau.

"Inovasi ini akan saya ikutkan untuk lomba tingkat nasional. Karena memang, soal penyakit TB ini kadang warga masih enggan berobat ke puskesmas, malah kadang dianggap aib. Jadi memang perlu kesabaran untuk menyadarkan warga," kata Harris saat dihubungi terpisah.

Harris pun berjanji akan memberikan sepeda motor yang baru buat Sri. Ini agar Sri lebih mudah melakukan kegiatan dalam program memerangi penyakit TB.

"Insyaallah, kita akan segera memberikan sepeda motor yang baru," kata Harris.
(cha/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed