Baca Puisi, Mufidah Kalla: Maaf Kalau Cara Baca Saya Tak Bagus

Isal Mawardi - detikNews
Minggu, 29 Apr 2018 20:51 WIB
Mufidah Kalla membacakan puisi (Foto: Isal Mawardi/detikcom)
Jakarta - Istri Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK), Mufidah Kalla, membacakan puisi karya N Syamsuddin Ch Haesy berjudul 'Ibu Pertiwi'. Mufidah sempat memohon maaf apabila cara membacanya kurang bagus.

"Mohon maaf kalau cara baca puisi saya tidak bagus," kata Mufidah sesaat sebelum membacakan puisi itu dalam acara yang digelar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Minggu (29/4/2018).


Acara itu digelar untuk memperingati Hari Kartini serta Hari Puisi Nasional. Sejumlah tokoh tampak hadir seperti Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dan Ketua MPR Zulkifli Hasan.


Berikut puisi yang dibacakan Mufidah:

Ibu Pertiwi

karya N Syamsuddin Ch Haesy

Di puncak gunung-gunung
Di hampar sawah seluas pandang
Di Laut tanpa batas terbentang
Di sungai-sungai yang mengalirkan harapan dan asa
Di hiruk kota-kota yang belomba dengan waktu
Berlatar cindai langit semesta
Ibu pertiwi memandang anak-anaknya
Menggelorakan semangat
Mewujudkan Indonesia Raya
Lihatlah berjuta putera-puterinya
Dengan ilmu setinggi cakrawala se dalam dasar samudera
Berlomba menanam kebajikan
Berkhidmat setia sebagai insan cendekia
Melahirkan karya nyata, dihidupkan kreativitas dan inovasi
Dalam nafas budaya dan religi teramat kaya
Berjanji setia mewujudkan tanggungjawab
Memajukan Indonesia Raya
Tanah air tempat benih merdeka tersemai
Tanah air tempat setiap peluh diteteskan membuang keluh
Tanah air tempat setiap air mata dan darah berubah jadi sejarah
Ibu pertiwi berdiri di punggung-punggung bukit
Tangannya membentang mengalirkan cinta
Menebar kesadaran menumbuhkan benih kemajuan
Menghimpun yang terserak
Mendekatkan yang jauh
Mengkaribkan yang dekat
Mengukuhkan komitmen
Saling memuliakan
Karena kita adalah satu:
Indonesia Raya
Ibu Pertiwi memandang penuh kasih putera-puterinya
Laksana Bunda Kandung mengasuh anak-anaknya
Tak pernah lelang Merawat Indonesia Raya
melepas putera-puterinya
Di samudera luas tanpa batas
Menggerakkan bahtera merdeka
Menuju pulau harapan dan cita-cita
Pulau nyata dalam kehidupan nyata
Tanah air tempat kerinduan disimpan
Tanah air tempat segala perjuangan
Menemukan maknanya, menemukan marwahnya

(Teluk Bone, 2018)


(dhn/haf)