Tuntut Menaker Mundur, Buruh Gelar Aksi di Tj Priok pada May Day

Yulida Medistiara - detikNews
Sabtu, 28 Apr 2018 18:02 WIB
Massa saat hari buruh 2017 lalu. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) akan menggelar aksi di Tanjung Priok, Jakarta Utara pada 1 Mei mendatang. Salah satu tuntutan pada hari buruh itu yakni agar Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri mundur.

"Instruksikan untuk ada May Day dan kami estimasi ada di pelabuhan Tanjung Priok pintu 9 karena disitu sangat serius masalah yang diomongin sekarang PP 78 dan TKA dan kita akan disitu ber-May Day," kata Ketum DPP Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Muchtar Pakpahan, di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/4/2018).

Selain menuntut agar Hanif mundur, massa dalam aksi juga mendesak agar Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20/2018 tentang Tenaga Kerja Asing dihapuskan.

"Kalau mau hubungan industrial mau tenang, copot Hanif Dhakiri karena dia lebih banyak memelihara perselisihan serikat buruh dan mengadu domba serikat buruh," kata Muchtar.

Muchtar menganggap Hanif tidak melakukan perubahan untuk mensejahterakan buruh. Ia menilai Hanif hanya melakukan pencitraan.

"Kebetulan ketenagakerjaan kita semakin rumit, Presiden mengangkat menteri yang tidak paham ketenagakerjaan, dan setelah setahun dia diangkat hampir minggu memanjat ke PJTKI tapi tidak melakukan apa-apa. Kalau dia mengerti ketenagakerjaan tidak perlu memanjat, pengawasan harus begini," kata Muchtar.

"Karena Presiden kita terkenal blusukan lalu pak Hanif Dakiri ikut-ikutan blusukan, manjat di PJTKI, itu yang pertama. karena kehadiran Hanif Daliri sebagi Menaker itu menambah beban Presiden Jokowi, itu catatan kita," imbuhnya.

Ia mengatakan akan ada 2.000 buruh menggelar aksi di pintu 9 pelabuhan Tanjung Priok untuk menuntut soal outsourcing. Sementara itu akan ada rombongan buruh lainnya yang berdemo di DPR maupun istana.

"Kalau kami di pelabuhan itu sekitar 2.000. Yang lain ada sekitar 20.000 di depan istana. Ada yang ke DPR mungkin sekitar 5.000. Ini kan perdebatan juga ngapain ke DPR, DPR libur pada tanggal 1 Mei. Presiden Juga libur kan. Jadi kita kan menyatakan ekspresinya ada dimana-mana," ujarnya. (yld/nkn)