DetikNews
Jumat 27 April 2018, 09:04 WIB

Ironi Jalan 'Bubur' dari Bumi Sumatera

Raja Adil Siregar - detikNews
Ironi Jalan Bubur dari Bumi Sumatera Jalan 'bubur' di Sumsel (raja/detikcom)
Banyuasin - Berkilo-kilo meter membentang di depan mata tanah lumpur yang layaknya bubur. Kendaraan harus melintasi 'bubur' itu yang sejatinya adalah jalan yang membelah 37 desa di Banyuasin. Sudah bertahun-tahun mereka terisolir.

Bila tak melewati jalan 'bubur' itu, warga hanya punya satu pilihan yaitu lewat Sungai Musi.

"Jalan pemda akses satu-satunya untuk jalur darat, tidak ada jalan lain. Mau tidak mau kami harus lewat jalan itu jika ingin ke Palembang dan pusat pemerintahan di Pangkalan Balai," kata Kades Dayan Murni, Manan Yulianto kepada detikcom, Kamis (26/4/2018).
Ironi Jalan 'Bubur' dari Bumi Sumatera

Rusaknya jalan pemda sepanjang 10 KM itu kini mejadi derita warga di kecamatan Muara Sugihan dan Muara Padang. Ada 37 desa yang kini terhambat aktivitasnya karena jalanan menjadi 'bubur'.

"Semua terhambat, hasil pertanian tidak bisa keluar. Kalaupun dibawa pakai kapal tongkang atau jukung biayanya mahal. Tidak sesuai pendapatan petani dengan biaya operasional," kata Manan.


"Sudah puluhan tahun kami merasakan jalanan rusak begitu, tidak pernah ada perbaikan jalan. Bahkan saat memasuki musim hujan tidak akan ada hasil panen yang bisa dibawa keluar kecuali melalui jalur perairan," kata Manan lagi.


Hal senada disampaikan salah seorang warga bernama Nuri, menurutnya pembangunan di daerah jalur berbanding terbalik pusat pemerintahan Banyuasin di Pangkalan Balai.

"Kami di sini berbeda dengan Pangkalan Balai, di sana pembangunan cukup maju. Tapi di daerah Jalur tidak sampai. Petani sengsara kalau jalan sudah lumpuh dan itu sudah tidak layak disebut jalan lagi sebenarnya," kata Nuri.

Ironi Jalan 'Bubur' dari Bumi SumateraFoto: raja

Saat detikcom ke lokasi, ada 5 truk yang tampak terjebak di jalan 'bubur' itu. Selain itu, sejumlah pemotor tampak berjibaku untuk dapat melintasi jalan itu.

"Jalan rusak sudah sejak puluhan tahun lalu. Itu jalan utama menuju Palembang, belum pernah ada perhatian pemerintah, padahal jalan itu menghubungkan 2 kecamatan," ucap seorang warga bernama Andes Dermawan ketika ditemui di lokasi.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed