DetikNews
Kamis 26 April 2018, 19:00 WIB

Pangdam Jaya Bicara Netralitas TNI hingga Kesiapan Amankan Jakarta

Elza Astari Retaduari - detikNews
Pangdam Jaya Bicara Netralitas TNI hingga Kesiapan Amankan Jakarta Pangdam Jaya Mayjen TNI Joni Supriyanto (Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Pangdam Jaya Mayjen TNI Joni Supriyanto berbicara tentang netralitas prajurit TNI pada tahun politik ini. Bahkan, karena aturan itu, Mayjen Joni sampai berhati-hati bertemu dengan koleganya yang maju pada pilkada.

"Tentara dalam menghadapi pemilu jelas perintahnya, netral," tegas Mayjen Joni saat berbincang di redaksi detikcom, Jl Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (26/4/2018).

Joni pun bercerita, ia kini menjadi sangat membatasi diri bertemu dengan temannya, eks Pangkostrad Letjen (Purn) Edy Rahmayadi. Edy saat ini maju sebagai cagub di Pilgub Sumatera Utara 2018.




"Netralnya di tentara itu sampai, contohnya ini, saya berteman dengan Bang Edy, cagub, dari taruna sampai hari ini. Pada saat beliau ditentukan jadi calon, saya ketemu dia pun hati-hati," ucapnya.

"Jangan sampai saya diliput, jangan sampai saya ini, itu. Itu netralnya tentara. Jangan sampai diragukan netralitas tentara," lanjut Joni. Dia berhati-hati meski sebenarnya pertemuannya terkait pertemanan, tidak membahas apa pun terkait politik.

Jenderal bintang dua ini menyebut ada banyak larangan bagi prajurit TNI di masa-masa pilkada dan menjelang Pilpres 2019. Joni menyebut batasan itu sampai ke hal-hal terkecil.

"Risikonya sangat jelas di tentara, kami membatasi tidak boleh, asrama, mobil untuk mendukung calon, sampai tingkat itu," tuturnya.


Joni mengatakan ada sanksi tegas yang akan diterima prajurit TNI bila diketahui tidak netral. Seluruh prajurit sudah mengetahui itu. Dia pun meminta masyarakat tak ragu TNI akan ikut-ikutan politik praktis.

"Anggota kita sangat taat. Jangan terlalu khawatir soal netralitas tentara. Yakinlah kita tentara akan netral, perintah jelas," tegas Joni.

Mantan Waka BAIS ini menilai suasana Pilpres 2019 tidak akan sepanas Pilpres 2014. Pelaksanaan pileg dan pilpres secara serentak, disebut Joni, jadi sebuah keuntungan. Sebab, anggota partai banyak yang mengikuti pileg dan berkonsentrasi merebut suara untuk dirinya sendiri.

"Situasi ini menguntungkan kita semua. Kita tidak terkonsentrasi. Kalau dulu kan pileg dulu, kemudian pilpres, partai-partai mengelompok memilih calon, terjadi dua kubu. Besok mungkin dua atau tiga kubu, tapi energi terpecah," urai dia.


Joni juga yakin tensi panas seperti Pilgub DKI 2017 tidak akan terulang. Dia yakin politik identitas tidak kembali menjadi momok yang bisa mengancam stabilitas keamanan bangsa.

"Politik identitas kemarin kan karena ada yang dikemas dan nyambung. Nantinya mungkin tidak lagi. Kalau semua calonnya muslim, semua sama identitasnya. Nggak ada yang dimainkan, kemarin kan ada," sebut Joni.

"Tidak perlu khawatir, tugas saya untuk membuat Anda tidak khawatir. Saya mengupayakan agar Jakarta tetap damai, tetap sejuk, semua akan saya kerjakan untuk itu. Bekerja sama dengan Polri, pemda," tambahnya.


(elz/bar)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed