DetikNews
Kamis 26 April 2018, 10:13 WIB

Jalan Jadi 'Bubur', Pak Bupati Dengarkan Jeritan Suara Warga Ini

Raja Adil Siregar - detikNews
Jalan Jadi Bubur, Pak Bupati Dengarkan Jeritan Suara Warga Ini Jalan 'bubur' di Sumsel (raja/detikcom)
Palembang - Memiliki infrastruktur yang baik di setiap daerah adalah kebanggan masyarakat. Tetapi bagaimana dengan nasib 'Wong Jalur' yang tinggal di daerah Banyuasin, Sumatera Selatan? Ternyata sudah puluhan tahun mereka tak pernah menikmati jalan mulus.

"Sudah puluhan tahun kami merasakan jalanan rusak begitu, tidak pernah ada perbaikan jalan. Bahkan saat memasuki musim hujan tidak akan ada hasil panen yang bisa dibawa keluar kecuali melalui jalur perairan," kata Kades Desa Daya Murni, Manan Yuliato, saat bebincang dengan detikcom, Kamis (26/4/2018).

Dikatakan Manan, jalan milik pemerintah Banyuasin yang sering rusak itu memiliki panjang sekitar 14 KM. Jalanan itu juga dihapit oleh kebun sawit milik PT Andira Agro di Karang Anyar, Muara Padang.

Ratusan kendaraan melintas di jalanan 'bubur' itu saat musim kemarau. Tetapi saat musim hujan, banyak kendaraan terjebak dan tak dapat melintas untuk menuju kota Palembang.

"Nasib Wong Jalur, tidak pernah dilihat oleh pemerintah. Padahal lumbung padi terbesar di Sumsel itu ada di daerah ini. Ribuan hektare sawah terbentang di sini, tapi kalau hujan dan jalan rusak semua menjerit karena harga anjlok," sambung Manan.


Sebagai bentuk keprihatinan, masyarakat secara swadaya memodifikasi jonder menjadi alat scrap jalan. Dengan biaya yang tidak sedikit mereka mengupulkan uang untuk perbaikan jalan, jembatan dan fasilitas umum lain dengan gotong royong.

"Kalau berharap pemerintah tidak akan bisa lewat kami sampai hari ini, itulah mengapa kami di sini kompak. Saling bahu membahu karena daerah kami ini juga banyak anak sungai dan butuh jembatan sebagai akses penghubung," kata pria berusia 43 tahun ini.

Hal senada disampaikan salah seorang warga bernama Nuri, menurutnya pembangunan di daerah jalur berbanding terbalik pusat pemerintahan Banyuasin di Pangkalan Balai.

"Kami di sini berbeda dengan Pangkalan Balai, di sana pembangunan cukup maju. Tapi di daerah Jalur tidak sampai. Petani sengsara kalau jalan sudah lumpuh dan itu sudah tidak layak disebut jalan lagi sebenarnya," kata Nuri.

Sebagaimana diketahui, 'Jalur' adalah penyebutan untuk masyarakat yang tinggal di daerah Banyuasin. Pada jaman dahulu akses menuju daerah itu melalui aliran sungai Musi dan dibuat jalur-jalur untuk menghubungkan antar desa agar dapat dilalui speed boat atau kapal.

Dari pantauan detikcom, ribuan hektare sawah terbentang di jalur 20 hingga jalur 16 sebagai lumbung padi Bumi Sriwijaya. Namun sayang, nasib petani tidak terlalu beruntung karena akses melalui darat sudah lumpuh. Ada sekitar 10 KM jalan yang tidak dapat dilalui.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed