Harga Kebutuhan Pokok Meroket

BBM Rp 15 Rb/Liter di Kupang

Harga Kebutuhan Pokok Meroket

- detikNews
Jumat, 08 Jul 2005 13:06 WIB
Kupang - Dampak melonjaknya harga premium di tingkat eceran yang mencapai Rp 15 ribu per liter serta kelangkaan BBM yang melanda Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur sepekan terakhir, mulai memperngaruhi sektor riil masyarakat.Dalam dua hari terakhir, harga sejumlah barang kebutuhan pokok di pusat perbelanjaan dan pasar-pasar tradisional mulai bergerak naik. Di Pasar Kasih Naikoten 1 Kupang, Pasar Inpres Oebobo dan Pasar Oeba misalnya, harga beras lonceng dalam kemasan 25 kilogram yang semula hanya Rp 86.000 menjadi Rp90.000. Sementara harga telur ayam buras dalam kemasan rak (20 butir) yang semula Rp 13.000 menjadi Rp18.000.Sejumlah pedagang, mengaku terpaksa menaikkan harga sepihak karena sulitnya transportasi. Angkutan kota banyak yang tidak beroperasi."Kami terpaksa menggunakan jasa ojek, meski dengan harga melambung. Untuk menutupi ongkos transportasi, kami menyiasati dengan menaikkan harga," kata Okto Benu, pedagang telur di Pasar Kasih Kupang, Jumat (8/7/2005).Barang kebutuhan pokok lainnya yang juga mulai bergerak naik yakni sayur-sayuran. Kacang buncis yang semula hanya Rp 3.000 per kilogram kini menjadi Rp 5.000 per kilogram. Minyak goreng dalam kemasan botol sedang, naik 20 persen menjadi Rp 7.000, dari harga sebelumnya Rp 4.000. Harga daging ayam yang semula Rp 12.500 jadi Rp15.000.Jurubicara Gubernur NTT Umbu Saga Anakaka yang dikonfirmasi mengenai melonjaknya harga kebutuhan masyarakat mengatakan, pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk menekan harga pasar."Kenaikan itu terjadi karena hukum pasar. Masyarakat khususnya para pedagang merasakan langsung dampak kelangkaan BBM. Sehingga jika mereka menaikan harga sepihak maka pemerintah tidak bisa melarang," katanya di Kupang.Puluhan Ton Ikan MembusukSementara itu, puluhan nelayan mengaku merugi puluhan juta rupiah karena tidak dapat memasarkan hasil tangkapan mereka. Hasil tangkan yang sedianya dipasarkan di Kota Kupang, tertahan di tanjung Sulamu, akibat perahu yang digunakan kehabisan BBM."Ikan-ikan kami yang jumlahnya belasan ton busuk. Kami tidak mendapat pasokan solar. Kami tidak tahu alasan Pertamina yang mengurangi jatah solar. Kami mau membeli solar di SPBU tetapi dilarang aparat keamanan," kata Marthen, nelayan asal Lukman, Kota Kupang.Sampai dengan hari kelima kelangkaan BBM, antrean panjang masih terjadi di delapan SPBU yang ada di Kota Kupang. Ratusan kendaraan roda dua, angkutan kota dan kendaraan pribadi memadati jalan-jalan menuju SPBU. Bahkan harga premium di tingkat pengecer masih bervariasi antara Rp 10.000-Rp 15.000 setiap liter.Upaya penertiban terhadap para pengecer sampai kini belum membuahkan hasil. Sebagian besar pedagang pengecer menyiasati dengan cara membeli di SPBU kemudian disedot kembali dan dijual ke kendaraan lainnya.Di Pangkalan ojek Jembatan Oebobo, Jl. WJ Lalamentik, misalnya. Para pengojek memilih untuk menjual bensin yang diambil dari tangki motor mereka dengan harga yang mencekik. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads