DetikNews
Selasa 24 April 2018, 11:23 WIB

Opsi Duet Jokowi-Prabowo, Habiburokhman: Much Too Late

Danu Damarjati - detikNews
Opsi Duet Jokowi-Prabowo, Habiburokhman: Much Too Late Foto: Pool/Biro Setpres
Jakarta - Ketua DPP Partai Gerindra menilai pembukaan opsi dari Joko Widodo untuk berduet dengan Prabowo merupakan langkah politik yang terlambat. Soalnya, Prabowo sudah jadi capres dari Partai Gerindra.

"Secara politik, much too late. Prabowo Subianto sudah terima mandat," kata Habiburokhman kepada detikcom, Selasa (24/4/2018).


Dia menilai ucapan Jokowi soal kemungkinan duet dengan Prabowo hanyalah perang urat saraf belaka. Kenyataannya, Prabowo adalah satu-satunya capres dengan elektabilitas yang mampu menyaingi Jokowi.

"Bisa jadi yang disampaikan tersebut hanya semacam psywar, karena secara de facto Pak Prabowo-lah pesaing terdekat Jokowi saat ini. Elektabilitas kandidat capres lainnya jauh di bawah Pak Prabowo," kata dia.

Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman.Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman (Indra/detikcom)

Diungkapkannya, tawaran dari pihak Jokowi kepada pihak Prabowo agar Prabowo menjadi cawapres Jokowi sudah disampaikan dua tahun lalu. Tujuannya adalah meredakan tekanan terhadap pemerintahan Jokowi dari pihak Gerindra.

"Tawaran cawapres Jokowi terhadap Pak Prabowo setahu saya sejak 2016, tapi lebih terkesan basa-basi politik demi mengurangi tekanan terhadap pemerintahan yang kesulitan menjalankan program-programnya," tutur Habiburokhman.


Prabowo menyatakan siap maju capres 2019 pada 11 April lalu. Maka kini sudah tak ada lagi kemungkinan Prabowo menjadi cawapres.

"Sekarang sudah sangat terlambat untuk skenario Jokowi-Prabowo. Pak Prabwo sudah menerima mandat untuk menjadi capres, dan kita semua tahu beliau orang yang teguh pada pendirian," ujarnya.
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed