DetikNews
Senin 23 April 2018, 08:51 WIB

Sempat Jadi Kuli Bangunan, Sarmia Besarkan Anaknya hingga Sarjana

Sitti Harlina - detikNews
Sempat Jadi Kuli Bangunan, Sarmia Besarkan Anaknya hingga Sarjana Sarmia berjuang untuk kedua anak-anaknya (sitti/detikcom)
Kendari - Seorang ibu rumah tangga, Sarmina (42) berjuang seorang diri membesarkan kedua buah hatinya. Sarmia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena ditinggal suami yang selingkuh dengan perempuan lain.

"Tidak menyesal, mungkin ini takdir saya. Saya jalani saja, mau diapa juga sudah terjadi," kata Sarmina saat berbincang dengan detikcom, Senin (23/4/2018).

Sempat Jadi Kuli Bangunan, Sarmia Besarkan Anaknya hingga Sarjana

Kisah itu bermula 12 tahun silam, saat Sarmia mengetahui suaminya jarang pulang ke rumah. Ia yang saat itu tidak memiliki pekerjaan apa-apa, sempat kebingungan karena ia memiliki anak yang masih duduk di bangku SD, Fadly Aksar dan adiknya saat itu berusia lima tahun, Sari Amalia Ningsih.

Awalnya, ia bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan gaji sebesar Rp 400 ribu/bulan. Cukup atau tidak ia hanya berusaha untuk bertahan kala itu, asalkan kedua buah hatinya tetap mendapatkan makan dan bisa bersekolah. Meskipun saat itu ia berada dalam kondisi terpuruk, namun ia tidak menyesali apa yang telah terjadi pada dirinya.

Sarmia hanya bisa meneteskan air mata mengingatkan sulitnya perjuangannya saat itu. Ia bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan. Meskipun berat, kata dia namun semua itu tetap dijalaninya karena dua buah hati yang ia cintai.

"Saya juga pernah kerja sebagai kuli bangunan, saat itu bulan puasa," kenangnya sambil meniteskan air mata.

Sempat Jadi Kuli Bangunan, Sarmia Besarkan Anaknya hingga Sarjana

Hal yang paling menyakitkan kala itu, suaminya pergi saat ia masih mengandung buah cintanya yang ketiga. Sayangnya, anaknya yang ketiga harus meninggal dalam kandungan saat usia kandungan memasuki delapan bulan. Diagnosa yang diberikan dokter, Sarmia harus kehilangan anaknya karena ia stres atas tekanan yang dialaminya, ditambah himpitan ekonomi yang membuatnya harus bekerja.

"Itu kuburan anak saya yang ketiga, ia meninggal usia delapan bulan. Kasian waktu meninggal bapaknya juga tidak datang melihat," katanya sambil menunjukkan kuburan anaknya yang berada persis di samping rumah.

Tidak hanya sampai disitu, uluran tangan dari pemerintah yang diharapkan bisa membantu, justru tidak didapatkannya. Program Keluarga Harapan (PKH) dan jatah beras raskin juga ia tidak dapatkan. Padahal katanya, ia sudah sempat mengajukan protes kepada pemerintah setempat.

"Sebenarnya saya sudah protes karena kenapa saya tidak dapat. Namun kata RT ini data dari pusat. Saya bisa apa lagi," ceritanya.

Atas usahanya yang tak kenal lelah, saat ini anak pertamanya sudah berhasil menjadi sarjana di salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama di Kota Kendari. Sementara anak keduanya sebentar lagi akan mengenyam bangku kuliah.

Ada perasaan sedikin lega yang tersirat di wajahnya. Ia mengaku bangga bisa menyekolahkan anaknya dan bisa bertahan selama 12 tahun tanpa bantuan siapa pun.

Ia juga menuturkan saat ini ia melakoni pekerjaan sebagai pencetak dan pembungkus asam, yang ia olah dengan cara manual hingga siap dipasarkan. Keuntungan yang ia peroleh dari cetak dan bungkus asam tersebut juga tidak banyak.

"Kalau untuk bungkusan kecil, saya dapat Rp 1.000 satu tempat, "katanya.

Kala itu, kesedihannya mencapai puncak pasda Hari Raya Idul Fitri. Di mana sanak saudaranya pulang ke kampung, namun ia harus tetap di rumah bersama dua anaknya.

"Kalau saudara saya rata-rata lebaran pulang ke kampung mertua, tapi saya mau ke rumah mertua yang mana, sudah tidak ada, " ujarnya.

Selama 12 tahun ia berhasil menjalani semua seorang diri tanpa bantuan siapa pun. Ketika disinggung untuk nikah lagi, ia tersenyum dan menjawab singkat.

"Dulu sempat ada yang suka sama saya, tapi anak pertama saya bilang mau lihat dulu orangnya. Saya pikir anak saya tidak setuju, jadi ya sudah saya juga mau cari apa lagi sudah ada dua anak, " tukasnya.

Ibu tetaplah ibu, ia tetap memiliki harapan untuk kedua anaknya, ia bahkan berharap agar apa yang terjadi pada dirinya tidak lagi terjadi pada anaknya, ia rela berjuang hingga suatu saat nanti ia benar-benar merasa bahagia saat kedua anaknya bahagia.

"Cukup sama saya saja, jangan lagi terulang dengan anak-anak saya, saya ingin mereka bahagia. Itu saja sudah lebih dari cukup," tuturnya menutup perbincangan.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed