DetikNews
Sabtu 21 April 2018, 19:52 WIB

Memahami Kartini

Cerita Ayat Qur'an Menerangi Pemikiran Kartini

Aryo Bhawono - detikNews
Cerita Ayat Quran Menerangi Pemikiran Kartini Kartini dan Islam (Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah)
Jakarta -

Raden Ajeng Kartini mengagumi isi pengajian Syaikh Muhammad Shalih ibn Umar al Samarani di rumah pamannya, Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Ulama yang lebih dikenal dengan nama Kiai Sholeh Darat itu menerangkan arti dan makna beberapa surat Al Qur'an dengan bahasa Jawa.

Baru kali itu Kartini memahami isi ajaran kitab suci Islam. Selama bertahun-tahun ia hanya diajari membaca huruf arab tanpa mengerti isinya. Kartini, menurut Abidah el Khaliqy dalam Kartini (Movie Tie-In), masih saja melongo walaupun Kiai Sholeh sudah menyelesaikan pengajian.

"Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu. Tidak laki-laki, tidak perempuan," ucap Kiai Sholeh dalam perbincangannya dengan Kartini setelah pengajian itu, seperti dikutip dalam tulisan Abidah.

Perbincangan Kartini dengan sang kiai berlanjut. Perempuan ningrat itu menyarankan agar Kiai Sholeh menerjemahkan seluruh isi Al Qur'an. Saran ini diterima walaupun berisiko hukuman penjara oleh pemerintah Hindia Belanda.

Abidah el Khaliqy menuliskan peristiwa ini berdasar naskah dalam film fiksi asmara Surat Cinta Untuk Kartini (2016) yang disutradarai Hanung Bramantyo. Hanung menyebutkan riset data atas sejarah Kartini cukup kuat karena banyaknya dokumentasi yang tersedia.

"Kami banyak sekali melakukan kompromi pada saat mengaplikasikan risetnya. Jadi yang susah bukan risetnya, justru saat pengaplikasian risetnya. Dari 100 persen data riset kami hanya bisa mengaplikasikannya 40 persen," kata Hanung dalam wawancara pada 23 Maret 2017 lalu.

Dosen Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang, M. Masrur, mengungkapkan upaya penerjamahan ini dalam makalahnya Kiai Sholeh, Tafsir Faid Al Rahman, dan Kartini. Terjemahan itu dinamakan Tafsir Fais Al Rahman dan diberikan sebagai kado pernikahan Kartini dengan Bupati Rembang, RM Djoyodiningrat pada 12 November 1903. Tafsir ini membuat Kartini bahagia, matanya terbuka atas ajaran Islam.

Sejarawan Asvi Warman Adam mengungkap dalam buku, Membongkar Manipulasi Sejarah: kontroversi Pelaku dan Peristiwa, pengetahuan ini membuka kebutaannya akan Islam. Dalam surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar tertanggal 18 Agustus 1899, Kartini menyebutkan orang-orang di sekitarnya hanya diajari membaca Al Qur'an tanpa memahami isinya. Al Qur'an dianggap terlalu suci dan tidak boleh diterjemahkan ke bahasa manapun.

Tetapi dalam surat setelahnya kepada EC Abendanon, Kartini mengungkapkan ketakjubannya atas Al Qur'an setelah mengetahui maknanya.

"Alangkah bebalnya, bodohnya kami, tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami," tulis Kartini.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed