Pilih Ketum PP Muhammadiyah, Formatur Diberi Waktu 1 Jam
Kamis, 07 Jul 2005 10:38 WIB
Malang - 13 Formatur PP Muhammadiyah yang terpilih dalam pemilihan Selasa, 5 Juli lalu, kini sedang bermusyawarah serius. Mereka diberi waktu 1 jam untuk menentukan ketuanya. Sidang pleno yang berlangsung di UMM Dome, Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jl. Tlogo Mas, Malang, dibuka pukul 08.00 WIB, Kamis (7/7/2005). Setelah dibuka, sidang telah meresmikan formatur yang terdiri dari 13 anggota PP Muhammadiyah yang terpilih Selasa (5/7/2005). Mereka adalah (sesuai perolehan suara): Din Syamsuddin, Haedar Nashir, Muhammad Muqoddas, A. Malik Fadjar, Yunahar Ilyas, Rosyad Sholeh, Dahlan Rais, Goodwill Zubair, Zamroni, Muklas Abror, Bambang Sudibyo, Fasichul Lisan, dan Sudibyo Markus. Setelah dilantik, sidang menugaskan kepada 13 anggota PP untuk bermusyawarah di luar arena sidang. Mereka diberi waktu 1 jam dari pukul 09.00 hingga pukul 10.00 WIB. Formatur memilih tempat ruang Rektorat UMM sebagai tempat musyawarah. Musyawarah ini untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan menjadi ketua umum PP Muhammadiyah 2005-2010. Rapat ini berlangsung tertutup. Tampaknya musyawarah formatur itu berlangsung alot. Hingga pukul 10.15 WIB, meski sudah molor dari waktu yang ditentukan, formatur belum kembali ke ruang sidang di UMM Dome. Karena itu, belum diketahui siapa yang terpilih sebagai ketua umum. Dalam ketentuan yang berlaku, peraih suara terbanyak belum tentu menjadi ketua umum. Namun, dalam muktamar-muktamar sebelumnya, biasanya anggota formatur yang dalam pemilihan 13 anggota PP Muhammadiyah memperoleh suara terbanyak itulah yang menjadi ketua umum.Sebagai contoh, Amien Rais menjadi ketua PP Muhammadiyah 1995-2000 dalam Muktamar ke-43 di Banda Aceh karena mendapat suara tertinggi. Begitu juga dengan Syafii Maarif yang menjadi ketua PP Muhammadiyah 2000-2005 dalaam Muktamar ke-44 di Jakarta juga memperoleh tertinggi. Dengan melihat kebiasaan ini, Din Syamsuddin memiliki peluang yang paling besar untuk menjadi ketua umum untuk lima tahun mendatang. Din sendiri sudah menyatakan siap untuk memimpin organisasi massa Islam terbesar kedua di Indonesia ini. Walau begitu, kasak kusuk masih saja terdengar. Selain Din, kabarnya ada pihak yang tetap mengusung Haedar Nashir, yang saat pemilihan berada di urutan kedua setelah Din. Pihak yang mengusung Din adalah kubu Yogyakarta. Haedar, saat ditemui wartawan di Hotel University Inn UMM, Rabu (6/7/2005) kemarin, mengaku masih punya peluang untuk menjadi ketua umum. "Kalau ketua dipilih tidak dari suara terbanyak, etikanya tidak masalah. Karena kedua-duanya ada dasarnya. Menyangkut ketua tidak dipilih dari suara terbanyak, itu di masa lampau sudah pernah terjadi dan itu tidak menjadi masalah, yang terpenting adalah 13 orang formatur," ungkap dia. Sementara itu, kandidat lain seperti Rosyad Sholeh dan Malik Fadjar dikabarkan telah condong untuk mendukung peraih suara terbanyak. Saat ditemui wartawan, Rabu (6/7/2005) kemarin, Rosyad mengaku sudah tidak berharap untuk menjadi orang nomor satu di Muhammadiyah. Dia mengakui kemenangan Din. Mantan Ketua PP Muhammadiyah Amien Rais juga memprediksi bahwa peraih suara terbanyak akan menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. "Jadi mustahil kalau suara terbanyak hanya jadi staf ketua. Saya yakin sekali," kata Amien.
(asy/)











































