"Respons Industri 4.0, lembaga pendidikan harus melakukan desain ulang kurikulum dengan pendekatan human digital menuju transformasi skills dengan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi sebagai basis," ujar Hanif dalam keterangan tertulis, Jumat (20/4/2018).
Ia melanjutkan perguruan tinggi (PT) juga harus berkolaborasi antara dunia digital, lembaga diklat, Kadin/Apindo, dan asosiasi untuk mengetahui kompetensi yang dibutuhkan masa depan. Hal itu juga agar PT bisa melakukan pengembangan digital skill dan pengakuan (rekognisi) kompetensi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika tidak bisa survive menghadapi perubahan, maka bisa kolaps perlahan. Contohnya sejumlah perusahaan ritel," lanjut dia.
Revolusi Industri 4.0 sendiri memiliki ciri otomatisasi dan ekonomi digital. Perkembangan supercomputer, robot, artificial intelligence, dan modifikasi genetik mengakibatkan pergeseran tren tenaga kerja yang tidak lagi bergantung pada manusia, melainkan mesin.
Pernyataan itu disampaikan Hanif saat memberikan Presidential Lecturer bertema 'Strategi Pengelolaan SDM Indonesia dalam Menghadapi Era Disrupsi RI 4.0' di Universitas Diponegoro, Jawa Tengah, hari ini.
Menanggapi pernyataan Menaker, Rektor Undip Yos Johan Utama mengakui revolusi industri sudah tak bisa dihindari. Hal itu ditandai dengan berbagai layanan online.
"Penanda dari fenomena ini adalah diterapkannya teknologi online dan digital PSD berbagai sektor industri sehingga tuntutan era sekarang adalah kecepatan dan ketepatan," kata Yos. (ega/ega)











































