SPBU Siap Buka 24 Jam

Hiswana Migas:

SPBU Siap Buka 24 Jam

- detikNews
Kamis, 07 Jul 2005 09:21 WIB
Jakarta - Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di wilayah Jakarta dan Jawa Barat siap buka 24 jam mengatasi antrean panjang pembeli BBM (panic buying). Namun, SPBU yang buka 24 jam hanya di jalur yang ramai."Kita akan buka 24 jam seperti permintaan Dirut Pertamina. Tapi tentunya hanya di jalur yang ramai. Kalau di jalur yang tidak ramai kan kasihan pemilik SPBU-nya, bisa didatangi preman nanti," kata Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Nur Adit kepada detikcom, Kamis (7/7/2005) pagi.Menyangkut stok BBM di Depo, menurut Nur Adit sebenarnya dalam kondisi aman. "Kalau khusus Jakarta sebenarnya aman. Cuma untuk daerah-daerah, terutama daerah kepulauan seperti Belitung agak berkurang karena mesti mengambil dari Plaju," ujarnya.Disinggung soal kelangkaan BBM di Kupang, di mana saat ini harga premium berkisar antara Rp 10.000-Rp 15.000 per liter, Nur Adit mengaku kasus Kupang agak berbeda. Menurutnya melonjaknya permintaan BBM di wilayah itu salah satunya disebabkan oleh banyaknya mobil dari Timor Leste yang masuk ke wilayah perbatasan tersebut."Kalau di Kupang, akibat harga BBM jauh lebih murah hanya Rp 2.400 per liter, sedangkan di Timor Leste sampai 59 sen dolar per liter, maka mereka banyak yang ambil maupun jual ke Timor Leste," ungkapnya.Bahkan, lanjutnya, banyak pula mobil-mobil bernomor polisi Timor Leste yang masuk ke Kupang. "Mereka mengaku punya saudara di Kupang dan membawa berbagai barang seperti telur dan lainnya. Nah, pada saat kembali ke Timor Leste mereka membawa BBM. Jadinya aparat susah untuk mengontrolnya," imbuh Nur Adit.Kenaikan HargaDalam kesempatan perbincangan tersebut, Ketua Hiswana Migas Nur Adit juga menyatakan, solusi yang dilakukan pemerintah dan Pertamina saat ini hanyalah bersifat sementara. Menurutnya solusi jangka panjang yang mesti dilakukan adalah kenaikan harga BBM."Solusi jangka panjangnya ya kenaikan harga BBM. Pasalnya disparitas harga dalam negeri dengan luar negeri masih sangat tinggi. Apalagi dengan harga minyak dunia yang menyentuh US$ 60 per barel, maka subsidi BBM bisa membengkak jadi Rp 110 triliun," ungkapnya.Dalam pandangan Nur Adit, Pertamina sebagai perusahaan yang bertanggung jawab atas distribusi BBM juga tidak bisa berbuat banyak. "Pertamina kan sangat tergantung dari dana yang dikucurkan oleh pemerintah. Soalnya duit hasil penjualan minyak dan gas kan masuk dulu ke APBN," tandasnya. (san/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads