DetikNews
Jumat 20 April 2018, 14:20 WIB

Survei Buaya di Sungai, Ini Cerita Seru 'Kartini' Peneliti LIPI

Yulida Medistiara - detikNews
Survei Buaya di Sungai, Ini Cerita Seru Kartini Peneliti LIPI Helen Kurniati, peneliti biologi LIPI saat menceritakan pengalaman serunya saat meneliti buaya di sungai (Foto: Yulida Medistiara/detikcom)
Jakarta - Helen Kurniati, peneliti biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menceritakan pengalamannya saat mengamati kehidupan buaya di sungai. Helen mengaku pernah digigit anak buaya.

"Saya itu kan spesialisasinya herpetofauna ilmu tentang amfibia dan reptilia. Jadi effort yang harus masuk lab itu adalah berani. Berani megang ular, kalau sudah geli-geli kita buang dari lab. Itu adalah modal utama bekerja menjadi herpetofauna itu adalah berani," kata Helen.

Hal itu dikatakannya dalam diskusi publik memperingati Hari Kartini bertema 'Wanita Tangguh dalam IPTEK Bangsa' di LIPI, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (20/4/2018).


Dia mengatakan semua peneliti reptil dan hewan amfibi wajib turun ke lapangan. Alumni jurusan Biologi Universitas Indonesia itu mengatakan tak pernah ada perbedaan perlakuan bagi peneliti LIPI meski beda gender.

Terkait pengalaman digigit anak buaya, Helen mengatakan hal itu dialaminya saat di penangkaran penelitian. Helen digigit anak buaya muara ketika membantu reptil itu keluar dari cangkang telur.


"Jadi saya selain di alam saya juga di penangkaran penelitian. Saya digigit oleh anak buaya. Jadi buaya muara itu buasnya sejak keluar dari telur. Saya bantu dia keluar dari cangkang telur itu saya bantu, jadi waktu keluar lihat jempolnya langsung digigit," kata Helen.

Meski begitu dia tidak pernah trauma meneliti buaya. Sebab menurutnya buaya sangat takut dengan kebisingan sehingga jika mendengar kebisingan buaya akan pergi dan justru mengumpat ke sungai.


"Saya digigit sama anaknya ya belum trauma. Pengalaman saya, buaya itu penakut kalau saya survei. Jadi kalau bagus meneliti buaya itu pakai dayung yang sunyi. Kalau berisik itu langsung masuk ke air. Jadi saya nggak pernah takut dengan buaya karena saya tahu mereka kecemasannya tinggi, dia dengan suara takut, suara mesin takut. Kalau kita pakai dayung yang nggak ada suara kita akan dapat," ungkap Helen.

Helen lebih suka memakai perahu dayung saat menghitung populasi buaya. Tanpa mengeluarkan suara berisik, dia dapat menghitung jumlah buaya di sungai pada malam hari menggunakan senter.

"Kalau kerja itu harus malam karena mata buaya kalau di senter itu merah jadi kita hitung. Untuk survei itu tergantung panjangnya sungai," ujarnya.

Helen tak pernah didampingi pawang saat survei populasi buaya di sungai. Menurutnya yang terpenting ialah membawa sepatu bot, topi, dan memakai lengan panjang untuk melindungi diri dari serangan ular.

"Jadi kalau saya bekerja itu nggak pernah bawa pawang buaya karena bikin repot saya. Kalau saya nyari buaya kan nyamperin buaya. Kalau dia kan tidak. Kapan mau ketemunya gitu? Kalau saya disamperin buayanya dengan perahu. Jadi banyak (pawang) yang bawa jampi-jampi tapi kalau saya tidak ada permintaan, pokoknya (yang penting) perahu, pengemudi, bensin," ujarnya.
(yld/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed