DetikNews
Senin 16 April 2018, 19:04 WIB

Mengapa Suara Penggemar Dilan Tentukan Kemenangan Pilpres 2019

Erwin Dariyanto - detikNews
Mengapa Suara Penggemar Dilan Tentukan Kemenangan Pilpres 2019 Jokowi menonton film 'Dilan 1990' bareng Kahiyang-Bobby. (Foto: dok. Biro Pers Setpres)
Jakarta - Aksi Joko Widodo yang tampil bak Dilan saat melakukan touring mengendarai sepeda motor chopper pada Ahad, 8 April lalu, dinilai sebagai upaya menggaet pemilih milenial. Bukan hanya Jokowi, sejumlah nama yang disebut bakal maju pada pilpres juga mendadak tampil trendi bergaya milenial.

Seberapa menentukan suara penggemar Dilan pada Pilpres 2019?

Dilan adalah tokoh utama dalam film 'Dilan 1990'. Nama Dilan populer dan digemari kalangan generasi milenial. Namun belum ada kata sepakat dari para pakar soal definisi pemilih milenial ini.



Badan Pusat Statistik memperkirakan jumlah pemilih milenial pada Pilkada 2018 sekitar 35 juta. Jumlah ini tentu akan bertambah pada Pemilu 2019. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) mengelompokkan generasi milenial adalah orang dalam rentang umur 17-34 tahun. Saat ini setidaknya 34,4 persen masyarakat Indonesia ada di rentang umur emas tersebut.

Directur Center for Presidential Studies, Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Nyarwi Ahmad mendefinisikan generasi milenial sebagai orang yang lahir setelah 1980-an. Ada juga yang lahir pasca-1995, yang biasanya dikategorikan kalangan post-millennial.



Jumlah total pemilih milenial dan post-millennial ini cukup besar dan bisa menjadi penentu dalam kemenangan Pilpres 2019.

"Sebab, mereka rata-rata pemilih yang memiliki keterikatan yang lemah dengan parpol, mudah kagum ataupun benci pada tokoh tertentu, dan sangat aktif di media sosial, khususnya yang ada di wilayah perkotaan," kata Nyarwi saat berbincang dengan detikcom, Senin (16/4/2018).

Kedekatan pemilih dengan partai politik biasa disebut party ID. Data sigi dari sejumlah lembaga survei menunjukkan, rata-rata jumlah pemilih yang memiliki kedekatan dengan parpol tak lebih dari 20 persen. Sedangkan party ID untuk pemilih milenial dan post milenial lebih kecil. "Dengan kata lain jumlah mereka yang dengan Party ID di bawah 20 persen bisa jauh lebih besar," kata Nyarwi.

Ketimbang dengan partai politik, generasi milenial lebih familiar dan aktif dalam berbagai platform media sosial. Mereka lebih tertarik pada elemen-elemen tertentu yang menjadi ciri khas atau keunikan seorang figur ketimbang yang dia omongkan.

Gaya komunikasi politik Jokowi bergaya 'Dilan' dengan mengenakan jaket denim dan sneakers dinilai sangat potensial menarik suara dari kalangan pemilih pemula dan milenial.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mengatakan pemilih milenial mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus didekati partai politik, calon presiden, termasuk kandidat di pilkada, sebagai ceruk segmen pemilih potensial. Cara mendekatinya bisa dilakukan dengan melakukan pendekatan, bergaul, masuk ke dunia atau komunitas dan hobi mereka.

Menurut Pangi, Jokowi kini seperti tak berjarak dengan pemilih milenial. Jokowi masuk generasi milenial dengan cara main musik, menonton film bioskop 'Dilan' bersama keluarga. Terakhir, Jokowi melakukan touring dengan motor Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya chopper di Sukabumi, Jawa Barat.

"Jokowi sangat mudah terkoneksi dengan milenial, terkesan apa adanya, dan tak dibedaki," kata Pangi.
(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed