Presiden SBY: Pasokan Premium Tidak Boleh Dikurangi

Presiden SBY: Pasokan Premium Tidak Boleh Dikurangi

- detikNews
Selasa, 05 Jul 2005 21:05 WIB
Jakarta - Meskipun harga minyak dunia melonjak naik namun pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium tidak boleh dikurangi atau diganti dengan jenis pertamax. Ini adalah instruksi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada para menteri."Ini untuk menghindari dampak-dampak sosial yang tidak diharapkan apabila suply dikurangi," kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengutip pernyataan Presiden SBY dalam rapat kabinet di Kantor Presiden, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (5/7/2005). Menurut Purnomo, dalam jumpa pers usai rapat kebinet, kebijakan ini akan menyebabkan melonjaknya subsidi BBM yang harus dibayar oleh pemerintah. Namun untuk saat ini kemampuan fiskal masih bisa menutupi harga minyak dunia yang menempus US$ 60 per barel.Dijelaskan, saat ini terjadi peningkatan konsumsi bahan bakar sebesar tujuh persen dibandingkan tahun. Ini perhitungan per Mei lalu. Karena populasi kendaraan pribadi juga semakin bertambah, yakni pertumbuhannya sekitar 5 persen.Padahal, kuota produksi premium yang disepakati pemerintah dan DPR sebesar 59,6 kiloliter atau lebih rendah dibandingkan tahun 2004. Sehingga adanya keputusan untuk menambah pasokan premium akan melampaui nilai kuota. Usulan penambahan kuota akan disampaikan pada DPR dalam masa persidangan semester kedua tahun ini.Untuk kuota 59,6 kiloliter ini nilai subsidi yang ditetapkan dalam APBN sebesar Rp 110 triliun. Dengan adanya kenaikan harga minyak maka nilai subsidi mencapai 138 triliun. Ditambah dengan penambahan konsumsi BBM, nilai subsidi yang ditanggung BBM mencapai Rp 150 triliun.Ditanya sampai sejauh mana kekuataan fiskal masih bisa menanggung subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia, Purnomo menyebut angka US$ 80 per barel. "Ya, sampai 80 lah (US$ 80 per barel). Tapi itu tidak absolut. Harga 70 sampai 75 itu sudah kritis.Juga dijelaskan, untuk saat ini stok BBM nasional cukup untuk 18,3 hari ke depan. Dan pada akhir Juli stok nasional ditargetkan bisa mencapai 20,8 hari. Target ini sebenarnya mundur dari sebelumnya, yaitu stok aman 22 hari dapat terpenuhi pada akhir Juli.Penyebab Kelangkaan BBMMenurut Purnomo, kelangkaan bahan bakar yang terjadi di beberapa daerah disebabkan oleh empat hal. Pertama, kendala teknis dalam proses distribusi. Misal di Alor, terjadi karena kapal tanker tidak bisa merapat ke pelabuhan akibat cuaca buruk. Keduanya, ada kerusakan kilang minyak yang mengganggu pasokan BBM. Ini terjadi di Dumai, iau, dan akhirnya memicu kepanikan di Medan, Sumatera Utara.Ketiga, adanya pembelian besar-besaran untuk proses produksi pertambangan. Misalnya yang terjadi di Bangka Belitung, tambang-tambang liar memborong solar dari SPBU. Kelima, peningkatan kebutuhan akibat melonjaknya peningkatan kepemilikan kendaraaan bermotor. Kasus ini terjadi di Pantura, Jawa."Jadi, mau tidak mau ya ditambah (pasokan BBM)," demikian Purnomo Yusgiantoro. (gtp/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads